Rumah Sakit atau Rumah Sehat?

March 28, 2013 at 3:12pm

 

Kemarin pagi, baca Kompas (27 Maret 2013) halaman 7, Surat Pembaca, membuat hati makin miris.
Ini merupakan konfirmasi apa yang selama ini ku curigai, ku yakini, dan kelihatannya akan selalu terjadi.

Seorang yang merasa dapat serangan jantung, langsung menuju ke rumah sakit ternama. Ketika dia tidak di acuhkan dia coba cari rumah sakit terdekat yang juga tidak kalah ternamanya. Di sini dia memang langsung ditangani, tapi dapat vonis mengejutkan : Kena serangan jantung parah, harus segera di kateter dan langsung di ‘balon’ – istilah populer untuk di pasang benda didalam pembuluh darah kita, berupa ring yang bisa mengembang seperti balon. Biayanya? puluhan sampai ratusan juta tergantung jenis material yang dipakai; laiknya milih bahan bangunan saja!

Serta merta si pasien menolak, karena mungkin kaget dengar uang sebanyak itu, atau karena dia merasa tidak punya sejarah sakit atau pernah mendapat serangan jantung sebelumnya.
Pihak rumah sakit ngotot dan tetap ‘menahan’nya di rumah sakit untuk dirawat selama 16 hari, dengan biaya Rp-10-15 juta perhari ! Wow, hotel bintang tujuh saja tarifnya gak semahal itu semalam.
Dia akhirnya keluar secara paksa. Cukup sigap dia mengambil keputusan untuk keluar rumah sakit sebelum jam 12:00 siang, karena kalau lebih 1 menit saja, maka biayanya tambah Rp. 10 juta ! Yaolloh!, kejam nian ! kaya ‘Secure Parking’ saja yang tidak ‘secure’, tapi kalau parkir mobil sih masih mending, lewat 1 menit paling tambah Rp. 3.000.

Tapi inilah klimak nya, sehari kemudian si pasien ke rumah sakit Harapan Kita, ternyata setelah diperiksa dengan teliti, dia bukan mendapat serangan jantung parah dan tidak sakit apa-apa, diberi obat jalan untuk sebulan dan boleh pulang, karena bisa dirawat di rumah ! Minta ampun! kelakuan rumah sakit ternama di negeri ini.
Kebayang enggak, kalau si pasien jadi di belah dadanya, di obok-obok isi nya di pasangi cincin entah dari besi, emas atau platina,  harganya ratusan juta, belum lagi kalau dokternya serakah memanfaatkan peluang, dengan mengatakan :” Wah, ini ternyata sumbatan terjadi di tiga titik, harus di pasang balon tiga-tiganya neh!”.

Matiilah awak ! harus membayar langsung 3 kali lipat! — kalau dapat tiga bintang sih masih lumayan….. jadi jendral bintang tiga! Tapi ini? ternyata tidak ada yang salah dengan jantungnya ! benar-benar tidak bermoral, mencari uang dengan memanfaat kondisi orang yang sedang ‘bingung’ karena menderita sakit.

Beberapa tahun lalu, aku mengalami hal yang mirip, walaupun bukan aku sendiri yang jadi pasien. inilah sebenarnya yang menyebabkan kecurigaan ku diatas.
Satu malam, sekitar jam 02:00 pagi, pembantu laki-laki ku, berteriak-teriak seperti orang di sembelih. Saking kerasnya terdengar kekamarku. Ketika kutengok ke kamarnya di melingkar-lingkar dilantai sambil memegang perutnya bagian bawah. Segera ku keluarkan mobil dan kuantar sendiri kerumah sakit.

Untuk pembantuku, aku sudah rencanakan ke rumah sakit di luar komplek rumah, tapi karena si pembantu terus melolong kesakitan, ku putuskan membelokan mobilku kerumah sakit paling dekat (rumahku di Pondok Indah).

Ternyata ini pilihan yang salah.

Begitu masuk, langsung staf di meja resepsionis menjawab tidak ada kamar kelas 3. (kelihatannya jawaban seperti ini sudah jadi SOP).
Aku bertanya :” Ya sudah, kelas 2 saja, atau kelas 1, apa masih ada ?”. Ternyata yang ada hanya kelas VIP dan Super VIP yang masih tersedia. Karena masih mengantuk dan diberi janji hanya malam ini saja, dan si staf besok akan segera mencarikan kamar yang lebih rendah, akhirnya ku setujui, pembantu ku — ya benar, seorang pembantu di rawat dikamar VIP di sebuah rumah sakit ternama di komplek dekat rumahku. Ceritanya sambil menunggu dipanggilkan dokter, dia diberi suntikan penenang supaya tidak teriak-teriak.

Jam sudah menunjukkan jam 3:00 pagi, dokter tak kunjung datang, sehingga kuputuskan pulang dulu untuk tidur karena mataku masih berat, serasa di seperi diduduki seekor  gajah .
Baru saja kepejamkan mata, tiba-tiba tilpon berdering dari rumah sakit, yang memberi tahu, menurut dokter, pembantuku  harus segera di operasi. Aku minta bicara dengan dokternya untuk tanya-tanya sakitnya apa mengapa harus dioperasi.

Ketika kutanya :” Apa tidak bisa besok pagi keputusannya?” karena mata ku belum melek benar dan nyawaku belum terkumpul akibat tadi terbangun jam 02:00 pagi. Rupanya memanfaat kondisi ku yang masih ‘drowsy” dokter memberi kesan gawat dan mengatakan harus segera ditangani dan operasi.  Tapi katanya operasinya ringan koq, hanya memasukan selang kecil kedalam badan lalu memecahkan batu (ginjal) yang menyebabkan kesakitan luar biasa itu.
Dengan jaminan operasi ‘sederhana’, lagi-lagi karena aku yang masih ngantuk, akhirnya kusetujui izin operasi, karena memang, aku sebagai majikannya yang harus menyetujui izin operasi.

Pagi harinya aku terkejut ketika kutanyakan biaya operasimya ternyata Rp. 15 juta! (ini mahal sekali untuk waktu itu) dan untuk masa pemulihan masih harus dirawat dikamar VIP, karena katanya belum ada kosong untuk kamar kelas dibawahnya.

Ternyata, sampai 6 hari kemudian, pembantu ku tetap dirawat diruang VIP. Setiap pagi kutanya, aku selalu terima jawaban yang sama         :” Maaf pak, hari ini semua kamar masih penuh, belum bisa pindah ke kamar yang lebih rendah.”

Hari kelima, orang tua si pembantu, setelah kuberi tahu, datang tergopoh dari kampung, ingin menengok anaknya. Bayangkan, betapa hebatnya ….., dia dengan sanak saudaranya yang lain, mengenakan sandal jepit, menjenguk anaknya di ruangan VIP – sebuah rumah sakit ternama di Jakarta Selatan !

Tak perlu kuceritakan berapa aku harus membayar untuk “pelayanan istimewa” ini, yang jelas beberapa hari kemudian aku membaca lagi di koran ada pasien yang komplein, hal yang mirip, kebetulan sekali, pasien ini menyebut nama dokter yang sama yang menangani pembantu ku dan hebatnya, dia berani meminta uangnya kembali, karena biaya operasi yang ‘terpaksa’ ditanda-tangani – menurut dia diluar kewajaran.

Tadinya aku berharap kejadian ini hanya satu atau dua dari sekian banyak kasus. sehingga kecurigaan ku tidak  berdasar secara statistik. Ada juga sedikit harapan saat ini kondisi pelayanan rumah sakit sudah berubah, tapi membaca berita Kompas kemarin, aku jadi teringat peristiwa diatas. Ternyata setelah  puluhan tahun keadaan tidak berubah.
Hal inilah yang memaksaku untuk menulis, dengan harapan banyak teman-teman, waspada terhadap praktek pembohongan atau bahkan perampokan terselubung, yang memanfaatkan situasi orang yang sedang sakit ini.

Jangan langsung percaya diagnosa dari dokter yang ngawur, mintalah 2 nd opinion, kalau bisa dari dokter yang anda kenal, sebelum menyetujui tindakan operasi, apalagi yang berbiaya besar; yang membuat kantong anda bolong, juga membuat badan anda di robek untuk dimasuki benda-benda asing, pastinya akan meninggalkan bekas jahitan yang tidak perlu.

 

Aku jadi berfikir  istilah atau sebutan “Rumah Sakit” sebaiknya diganti dengan “Rumah Sehat” , supaya orang yang memang sakit, datang kesini jadi sehat, bukan sebaliknya orang sehat masuk ke ‘Rumah Sakit” dia benar-benar jadi … sakit!

Aku bersimpati kepada si Bapak yang nyaris dadanya dibelah, tapi agak geli juga membaca cerita nya di surat pembaca, bahwa dia ‘tiba-tiba langsung jadi sehat, ketika mendengar berapa biaya yang harus dibayarnya !

Aku sadar, banyak juga yang berprofesi dokter akan membaca cerita ini, tapi… biarlah, aku juga tahu banyak dokter kenalan baik ku. Biar saja… aku siap dengan komentar mereka, aku justru berharap mereka ikut memperbaiki kondisi diatas atau menghilangkan stigma buruk yang selama ini ada, paling tidak yang ada di kepala ku.

Jakarta, 28 Maret 2013

BS

Kamar kelas VIP

Kamar kelas VIP

 

  • VH. Gadjahmada likes this.
  • Boediono Soerasno….. pernah punya pengalaman yang sama Djah?
  • Erwinthon P. NapitupuluSaya pernah punya beberapa pengalaman yang mirip, Pak Boedi.
    Seorang kawan arsitek yang ayahnya dokter (profesor) dan pamannya kepala rumah sakit di palembang bilang begini, “Win, kalau pengacara yang diporotin biasanya orang kaya dan sehat. Kalau dokter yang diporotin orang yang sedang sakit, bahkan sudah meninggal. Miskin atau kaya tidak jadi pertimbangan.”
    Dua tahun lalu, saya 3 hari bolak-balik rumah sakit di Bandung bantu istri tetangga saya yg baru melahirkan. Ibu dan anaknya perlu perwatan khusus. Singkat cerita keringanan tidak diberikan, bahkankarena kelainan pada jantungnya si bayi “dipaksa” dirawat di paviliun parahyangan, sebuah fasilitas swasta di rumah sakit pemerintah itu yg berbiaya ruang saja satu juta lebih per hari. Tidak ada keringanan yg diberikan karena itu fasilitas swasta, katanya. [Total sekitar 30 juta dibayarkan di sana. Tanpa keringanan 1 rupiah pun. Dan tidak ada pembayaran dengan kartu kredit.]Karena sudah agak dekat dengan seorang perawat, saya mencoba mengorek informasi apakah memang si bayi harus dirawat di paviliun parhyagan tersebut. Implisit suster tsb menyatakan tidak demikian. Saya ingat, ketika si ibu masuk Rumah Sakit sebelum melahirkan dan Rumah Sakit mensyaratkan harus deposit dulu 5 juta di muka, saya yg ketika itu di Jakarta bilang ke suaminya akan langsung membayar segera setelah saya kembali ke Bandung.

    Belakangan saya menangkap, itulah yg dijadikan alasan untuk morotin. Ada orang berduit yg menjamin biaya perawatan si miskin. Padahal uang perawatan itu adalah bantuan dari kawan2 saya yg baik hati. Dan pemorotan itulah yang terjadi selama hampir dua minggu di dua rumah sakit: Hasan Sadikin dan Adven.

    Proses pemorotan itu berhenti setelah kawan yg anak dokter itu menyarankan agar saya tidak lagi muncul ke rumah sakit utk melakukan pembayaran. Biar keluarga pasien miskin itu saja. Kami lakukan itu pada saat tagihan RS Adven mencapai 30 juta lebih, dan baru saya bayarkan 15 jutaan dan kerena itu bayi tidak boleh dibawa pulang, padahal sudah dibolehkan. Rumah Sakit itu sudah diberitahu kalau orangtua si bayi adalah buruh perah sapi pada saat bayi masuk. Dan direktur keuangan rumah sakit tersebut pun sudah saya beritahu kalau biaya itu berasal dari bantuan dari orang2 baik hati lewat facebook.
    Akhirnya dengan 15 juta tagihan tersisa (dan terus bertambah sekitar 500 ribu per hari untuk biaya “penitipan” bayi), saya minta kakek si bayi datang ke rumah sakit bilang, “Kami tidak punya uang lagi, selain 5 juta uang pinjaman ini. Silakan bapak tahan cucu saya kalau tidak boleh saya bawa pulang ke rumah. Tapi itu tetap cucu saya sampai kapanpun. Tolong dirawat dengan baik.”
    Dan cara itu berhasil. Bayi akhirnya boleh dibawa pulang. Uang 5 juta diterima.
    Pelajarannya, kalau kita ingin membantu orang yg perlu bantuan biaya rumah sakit, sebaiknya bukan kita yang maju menghadap ke “kasir” rumah sakit. Mereka akan memperlakukan kita seperti ATM. Biar keluarga dekat si sakit saja yang menghadap dengan tetap mendapat bantuan kita dari belakang.

    Orang sakit, semiskin apapun, punya hak untuk mendapat perawatan yg baik sampai mereka bisa sembuh. Itu yg seharusnya dipahami oleh orang2 yang bekerja di rumah sakit dan bidang kesehatan secara umum.
    Syukurlah, bayi yg saat ini sudah hampir berumur 2 tahun, tumbuh dengan sehat seperti anak2 lainnya.

    [colek Muhammad Iwan Lubis]

  •  Boediono SoerasnoKoq gak ada yang comment ya dari yang punya rumah sakit atau dokter? Praktek harus deposit uang didepan ini juga sebenarnya tidak ada aturannya dan tidak manusiawi baik untuk yang berduit , apalagi untuk yang miskin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s