Musuh Nyata Setelah Pensiun : Terlalu Banyak Duduk !

January 24, 2014 at 2:24pm

Setelah masa pensiun ini, ternyata musuh utama semakin nyata, yaitu ‘terlalu banyak duduk’.

Bayangkan, dulu saja sewaktu masih aktif, kita ini sudah tergolong ‘kebanyakan duduk’ : pergi kekantor, hanya jalan sebentar ke mobil, lalu duduk di mobil, 1-2 jam, sampai kantor, jalan 20 meter, lalu duduk diruang kerja, pulang kantor, jalan sebentar menuju mobil, duduk lagi 1 -1 1/2 jam menuju rumah (ini kalau gak macet!), sesampai dirumah jalan 20 langkah, paling berat naik tangga, lalu duduk lagi di ruang kerja di rumah. Begitu seterusnya tiap hari. Kalau dihitung berapa jam sehari kita duduk terus. Apalagi sekarang setelah ‘pangsiun’.

Satu-satunya kegiatan yang tidak duduk adalah kalau kita sedang/perlu tidur. Tapi ini tak terlalu berlaku untuk ku, karena aku bisa juga tuh tidur sambil duduk atau posisi duduk sambil tertidur. Mungkin ini kebiasaan sejak zaman sekolah dulu, di Jurusan Arsitektur, sering kali bergadang 3-4 malam mengerjakan tugas tanpa tidur, kalau pun perlu tidur, cukup 10-15 menit sambil duduk didepan meja gambar merk ‘Keulmann’, ternyata bisa kulalukan, bahkan kepala tetap tegak dan tangan masih memegang rapidograph!

Bicarakan meja gambar merk Keulmann, waktu itu, mana mampu aku beli dengan uang saku mahasiswa mesin buatan Jerman ini, lengkap dengan bandulnya. Jadi ingat ini semua milik Jurusan, warisan Belanda, barangkali dari zaman Van Romond. Untuk Proyek Akhir, waktu itu tahun 1969, kami ber enam dipinjami masing-masing satu set mesin gambar ini.

Tapi ada orang Bandung yang mencoba membuat tiruannya dan berhasil dan sukses dijual kepada banyak mahasiswa arsitektur, karena harganya yang amat murah dibanding Keulmann, tapi yaa presisinya harap maklum. Tapi cukuplah untuk kebutuhan saat itu. Aku lupa merk aslinya tapi lebih terkenal dengan sebutan ‘Engkolman’ (plesetan dari ‘Keulmann’, karena tokonya ada dijalan Engkol, Bandung Selatan.

Kembali ke soal kursi…… Wah, jadi gimana dong? karena setelah dianalisa, ternyata semua kegiatan kita, tidak bisa dihindari memang perlu duduk.

Jadi strateginya dibalik : mengapa bukan tempat duduknya yang dibuat nyaman?

Nah, setelah memperhatikan kursi yang paling banyak dipakai adalah diruang kerja studio. Kursi Ini memang sudah perlu diganti. Selama ini aku selalu pakai produk Vinotti, karena Encona hampir semua beli produk kursi kantor Vinotti. Tapi kursi ini punya kelemahan untuk posisi tertentu dan kalau sudah agak lama, sandarannya akan lemah dan tidak bisa kembali posisi semula (semoga orang Vinotti tidak baca posting ini – bisa-bisa Encona gak dikasi diskon lagi!).

Setelah survey beberapa hari di beberapa toko furniture, dengan kriteria : bisa reclining dengan posisi ekstrem, bahan dari fabric yang tembus, jadi tidak panas kalau dipakai berjam-jam, sandaran tangan bisa turun naik dst., akhirnya terpilih produk yang dijual di toko InForma, mereka punya toko sebesar lapangan bola-3 lantai di GanCit (Gandaria City).

Sedikit masalah muncul, ketika aku jadi beli dan kursi siap dikirim, ternyata kulihat ada tambahan biaya sebesar Rp.350,000.

“ Untuk apa ini biaya?”, kutanya pada sale-girl nya.

“ Biaya pasang pak, satu kursi Rp.175,000, dua jadi Rp. 350,000.” Katanya.

” Ugh.. mahal amat biaya pasangnya “ pikirku untuk kursi yang tidak terlalu rumit ini .

Rupanya kursi dikirim selalu masih dalam kotaknya dalam kondisi terurai, belum terpasang utuh sebagai kursi. Setelah kulirik sebentar lembar panduannya untuk memasang, juga tidak sulit, maka kubatalkan ongkos pasang – aku akan pasang sendiri !

Kursi masih dalam Box

Kursi masih dalam Box

Lembar Panduan Pasang

Lembar Panduan Pasang

Esok pagi harinya 2 kursi datang diantar mobil InForma disertai supir tapi, keukeuh, ada  2 orang teknisi yang katanya akan memasang kursi. Setelah kujelaskan, bahwa aku bisa pasang sendiri, si teknisi ngotot bahkan menakuti kalau nanti ada masalah mereka tidak tanggung, dan garansi tak berlaku karena dipasang sendiri oleh pembeli! Tak ku perdulikan ‘ancaman’ nya, mereka kusuruh pergi setelah aku mencoret biaya pasang dan membayar hanya sisa yang belum ku bayar.

Kondisi terurai - sekrup jangan sampai ada yang hilang.

Kondisi terurai – sekrup jangan sampai ada yang hilang.

Tak sabar untuk memakai kursi baru, segera ku bongkar kotak kursi dan kupasang di garasi ku dengan dibantu satu orang pembantu laki2, ternyata tidak lebih 40 menit dua kursi sudah terpasang!  hmmm, lumayan … menghemat Rp. 350,000.

Kursi hampir selesai. Ternyata yang lebih sulit bagaimana setting posisinya yang pas.

Kursi hampir selesai. Ternyata yang lebih sulit bagaimana setting posisinya yang pas.

Karena dudukan bisa maju mundur, sandaran juga tinggi rendah, lalu sandaran tangan posisinya juga bisa diatur terhadap dudukan

Karena dudukan bisa maju mundur, sandaran juga tinggi rendah, lalu sandaran tangan posisinya juga bisa diatur terhadap dudukan

Kursi siap pakai. Total waktu 40 menit, biaya : zero, hanya capai sedikit, musti jongkok2 !

Kursi siap pakai. Total waktu 40 menit, biaya : zero, hanya capai sedikit, musti jongkok2 !

Kamfret juga orang-orang itu ! Rupanya toko-toko seperti ini banyak mengambil keuntungan dengan mengenakan biaya pasang yang tinggi, dengan menakut-nakuti : garansi tidak berlaku kalau tidak dipasang oleh Penjual.

****

Jakarta, 23 Januari 2014

BS

  • Amrie Noorbeli juga ah? piro pak regane?
  • Yudianti Santoso-AdityawarmanBravo pak…hehehe… Amrie Noor halah sok ikutan
  • Amrie Noorkalo stik golf, pak boedi ikutan aku, jadi kalo kursi gantian lah aku yg ikut-ikutan hahahaha
  • Aboejoewono AboeprajitnoEmang heibaaat Boesoer nih, ada talent tukang apapun; kalau perlu kapan-kapan bisa assist…..at no cost? ………………………….tapi ngomongin meja gambar lama itu bukannya Kuelmann von Deutschland?
  • Sarosa T SoemohadiwidjojoDari pada kursinya, saya lebih tertarik dengan Workshop di Garasi tempat merakit kursi tsb …
  • Sugeng RahardjoAri Keulman ( 1 huruf n) mah Sunda asli, yang import namanya Kuhlmann. Sebetulnya, bagaimanapun ‘baik’nya posisi, duduk berlama-lama tetap tidak baik. Apa golf dan taichi juga sambil duduk di kursi Informa? Semula saya pikir pak BS mau modif Recaro. Selamat menikmati, juga waktu ketiduran sambil duduk
  • Boediono Soerasno@Aboejoewono: Memang dari Deutschland , tapi rasanya merk nya ‘Keulmann’ doang, ngga pake ‘von Deutschland’.
  • Boediono Soerasno@Yudi: Amrie,serius lho mo beli, bahkan mo pasang sendiri juga. heibaat! @Sarosa: Workshop digarasi memang dibuat nyaman juga dengan segala peralatannya, karena disini salah satu tempat kita bisa kerja tanpa banyak duduk. @SR: Ada ‘trick’ nya lagi pa, tapi tip bisnis dari Gadjah, jangan dibuka semua rahasianya, tapi kalau untuk kesehatan bolehlah, yaitu beli di apotik itu bebat pinggang yang agak lebar untuk jaga posisi punggung tidak melengkung, kalau bisa yang ada magnetnya, katanya bagus juga utk lancarkan peredaran darah. Nah, soal Golf dan Taichi ini bisa cerita panjang dan sudah/akan ditulis di blog saya saja.
  • Erwinthon P. Napitupuluwah, pak boedi punya “workshop” sendiri di garasinya. keren pak! satu saat saya akan punya yang seperti itu. tapi kayaknnya khusus pekerjaan kayu, nggak termasuk mobil.

    saya yang jarang sekali berolahraga (kecuali nemeni anak2 ketika berenang), sering terbantu jadi “lebih sehat” karena saya juga selalu mengerjakan apa2 sendiri.

  • VH. GadjahmadaPak BS, kursi saya 4 tahun terakhir persis seperti yang Bapak beli. Cuma brand-nya Vivere. Ergonomis, tapi nggak bisa dipakai tidur sambil pegang rokok.. Hehe.., jaring2nya gampang banget bolong kena api rokok.
  • Boediono Soerasno
    Write a comment…

One thought on “Musuh Nyata Setelah Pensiun : Terlalu Banyak Duduk !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s