Apple ngemplang Pajak ?


Ngemplang pajak atau ngakali aturan pajak?

Sedih juga membaca salah satu perusahaan favorit ku, yang produknya untuk pertama kali pada tahun 1983, mengenalkan ku pada komputer-pribadi (PC), yaitu Apple Inc. , ternyata ‘mengemplang ‘ pajak.

Berbagai produknya sampai sekarang masih ku pakai, bukan karena hanya favorit, tapi harus diakui produk mereka secara teknologi amat unggul dan sebagai arsitek yang akrab dengan ‘design’ , produk-produk mereka fungsinya selain memikirkan penggunanya juga menempatkan kesederhanaan dan estetika sebagai faktor utama.

Buktinya saat ini Apple Inc. merupakan perusahaan teknologi yang paling menguntungkan didunia!.

Kembali ke soal ‘ngemplang’. Sebenarnya bukan ngemplang, tapi bahasa halusnya ‘mengakali’ atau ‘mencari loop-holes’ aturan pajak di Amerika yang memang aneh dan salah satunya ternyata belum bisa menjamah kemajuan teknologi dengan produk-produknya yang sulit digambarkan secara jelas .

Apple mempunyai kantor di Reno- negara bagian Nevada ( hanya 200 km dari Cupertino- markas besarnya Apple di California) , tapi anehnya di Reno ini tidak ada perakitan MacBooks atau iPads , iPhone juga tidak di rancang disini, begitu juga tidak ada kegiatan AppleCare customer service. Tapi dikantor kecil ini dengan hanya beberapa staf, Apple telah menjalankan strategi korporat yang sangat penting bagi perusahaan raksasa ini, yaitu menghindari pembayaran jutaan dollar pajak yang berlaku di California dan 20 negara bagian lainnya.

Kenapa bisa begitu? Ya .. ini yang aneh di Amerika ternyata pajak perusahaan di California 8.84 % , tapi di Nevada ? zero % !

Apple Reno office - Photo David Calvert of The New York Times

Apple Reno office – Photo David Calvert of The New York Times

Dengan membuka kantor dengan nama – Braeburn Capital di Reno, untuk menghimpun semua profit perusahaan dan menanamkannya kembali sebagai investasi, maka Apple telah ‘mengakali’ aturan pajak yang berbeda di tiap negara bagian dan mengambil keuntungan dari ‘lubang besar’ dalam aturan pajak itu.

Mendirikan kantor di Reno, hanya salah satu dari langkah-langkah yang tidak melanggar hukum bagi Apple untuk mengurangi pajaknya di seluruh dunia yang jumlahnya bisa jutaan dollar. Apple juga telah membentuk ‘subsidiaries’ di negara –negara yang mengenakan pajak rendah seperti di Ireland, Belanda, Luxembourg dan British Virgin Islands. Kantornya kecil-kecil, tidak mencolok, kadang-kadang hanya berupa ‘mailbox’ tapi bisa menghemat cukup banyak pajak yang harus dibayar di seluruh dunia.

Hal seperti ini sebenarnya normal dan sah-sah saja. Tidak bisa dipungkiri semua perusahaan besar akan berusaha mengecilkan pajaknya, terlebih lagi untuk Apple penghematan pajak akan sangat berarti karena keuntungan perusahaan ini teramat besar – barangkali terbesar untuk sebuah perusahaan teknologi di dunia!. Analisa Wall Street, Apple tahun ini akan mendapatkan keuntungan sebesar $ 45.6 milyar dollar – merupakan rekor prestasi tertinggi di kalangan bisnis di Amerika.

Peraturan pajak yang lain di Amerika adalah yang kena pajak hanyalah barang-barang yang di buat dan dijual di Amerika. Aturan ini memang punya alasan kuat, bagaimana kontrolnya kalau barangnya dibuat dan dijual di luar Amerika?

Ini memang yang aku uraikan diatas, sulit untuk produk digital di kenakan pajak, karena aturan pajaknya masih ketinggalan, dibuat pada saat ‘industrial age‘ ,  jelas tidak cocok untuk di aplikasikan sekarang di ‘digital age’ ekonomi. Perusahaan seperti Apple, Google, Amazon, dan Microsoft banyak menjual produk berupa benda non-fisik, seperti  royalties atas intellectual property, misalnya patent untuk software yang menyebabkan sebuah alat berfungsi (OS). Ada juga produk lain yang memang digital seperti lagu-lagu yang bisa di unduh ( iTunes). Pastinya lebih mudah untuk perusahaan dengan produk berupa digital untuk memindahkan ‘pabrik’nya ke negara dengan pajak-rendah, daripada perusahaan seperti Wall-Mart atau General Motors.

Berbeda dengan mobil atau makanan-minuman, produk berupa lagu yang diunduh bisa di jual dari mana saja di seluruh dunia. Celah aturan pajak inilah yang dimanfaatkan oleh perusahaan besar seperti Apple. Digital economy yang terus tumbuh-berkembang ini memang memusingkan dan menimbulkan persoalan khusus bagi pembuat undang-undang.

Perkembangan digital ekonomi ini yang bikin pusing para pembuat aturan pajak untuk pajak perusahaan (Corporate taxation). Walaupun sektor teknologi merupakan salah satu industri terbesar dan yang paling bernilai di negeri ini, anehnya banyak perusahaan teknologi, justru paling sedikit membayar pajak – ini menurut data yang di keluarkan pemerintah Amerika. Dalam dua tahun belakangan ini 71 perusahaan teknologi – termasuk Apple, Google, Yahoo dan Dell – dilaporkan membayar pajaknya rata-rata hanya sepertiga dari perusahaan lain yang masuk dalam daftar S & P companies.

Apple dengan strategi pajaknya diatas, tahun lalu, membayar pajak ‘hanya’  $ 3.3 milyar dolar dari keuntungan sebesar $ 34.2 milyar dolar – ini hanya 9.8 % ! Sebagai pembanding, Wall-Mart pada tahun 2012 membayar pajaknya di seluruh dunia  sebesar $ 5.9 milyar dolar dari keuntungan sebesar $ 24.4 milyar – ini sekitar 24 % pajak, yang merupakan rata-rata untuk perusahaan non-teknologi.

Kenapa pusing? Kenapa tidak kenakan saja pajak yang tinggi? Nah disini masalahnya nya.

Ternyata baru-baru ini, dalam sebuah acara besar Apple Worldwide Developers Conference (AWDC) di San Fransisco, yaitu acara tahunan dimana Apple biasa mengumumkan produk-produknya; banyak juga diundang para pejabat pemerintah. Mereka ternyata cuma bisa sekedar menyindir Apple soal bayar pajak nya yang relatih sedikit dibanding perusahaan lain seperti Wall-Mart.

Mungkin ini disebabkan CEO Apple Timothy D. Cook, mengindikasikan :” You jangan macem-macem!, kalau bisa buktikan Apple melanggar hukum silahkan tuntut, tapi saya akan pindahkan semua kegiatan Apple dari sini!”.

Semua pejabat ngeper, karena keberadaan perusahaan raksasa seperti Apple, disuatu kota atau negara bagian akan mendatangkan banyak sekali keuntungan lain, kalau sampai Apple ‘ngambek’ dan putuskan pindah, bisa-bisa kota atau daerah itu akan bangkrut seperti halnya kota Detroit yang kita dengar baru-baru ini. Begitu juga pada tingkat negara, perusahaan raksasa seperti Apple amat di rindukan untuk membuka usaha atau kegiatan nya, karena akan  mendatangkan kemakmuran tersendiri bagi negara tersebut diatas seperti Ireland, Luxembourg, British Virgin Island dll.

Hmm, sebuah dilema yang sulit !

Bagaimana di Indonesia? Kalau di Indonesia banyak perusahaan memang benar-benar ngemplang pajak dan malah bermain dengan pegawai pajak (yang seharusnya menjalankan aturan pajak) untuk untuk melanggar aturan dan tidak bayar pajak!.

Ada juga aturan pajak yang aneh, ngaco dan tidak masuk akal, misalnya Pajak Barang Mewah dikenakan untuk barang-barang sebenarnya tidak mewah, tapi mobil import dibebaskan Pajak-Barang- Mewah nya hanya untuk mengejar predikat ‘mobil murah’ . Produk hasil anak negeri, malah dikenakan pajak tinggi, sehingga harga jual tidak bisa bersaing dengan produk dari luar negeri.

Eh, mengapa jadi ke ‘mobil murah’ ( yang memang saat ini sedang ramai dibicarakan — tapi ini bisa satu topik panjang lagi).

Kembali ke Apple, dengan kondisi diatas, aku akan tetap pakai produk Apple, karena sekali lagi, produk mereka memang produk unggulan dan tidak bisa dibantah. Pasar membuktikan hal ini dan inilah data-data mencengangkan tentang hasil penjualan Apple.

Pada Kwartal 2 Tahun 2013 , Apple membukukan net profit sebesar $ 9.5 milyar dolar dari penjualan sebesar $ 43.6 milyar dolar! Ini dicapai dengan berhasil menjual 37,4 juta iPhones ini kenaikan sebesar 43% dari Q-2 Tahun 2012. Kemudian mereka juga berhasil menual 19,5 juta iPads, naik 65.2 % dari tahun sebelumnya.

Apple CFO, Peter Oppenheimer, dengan jumawa mengatakan bahwa pada akhir Q-3 tahun 2013 Apple mempunyai uang tunai sebesar $ 145 milyar dolar,  cukup untuk program Beli Kembali Saham mereka. (Stock Buy Back Program). Ini merupakan program pembelian-kembali saham satu perusahaan yang terbesar dalam sejarah.

Dengan keuntungan sebesar ini, jangan heran kalau mereka akan dengan segala cara ( yang masih legal) untuk menghemat dari sisi pajak-keuntungannya. Usaha mereka dengan menyewa sekumpulan ahli pajak yang jagoan untuk bisa menghemat pajak, tanpa harus berurusan dengan hukum, sungguh suatu langkah yang bisa dimengerti dan saat ini Apple menjadi ‘percontohan’ untuk perusahaan besar lainnya dalam urusan mengakali aturan pajak.

Apple-logo

*****

22 September 2013

BS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s