The China Connection


……. Dalam 20 tahun terakhir China telah berubah menjadi negara industri terkemuka didunia dan berhasil mengurangi penduduk miskin sebanyak 300 juta jiwa. ( Jeffrey D. Sach – The End of Poverty)

 It seemed like their growth was unstoppable…

With a billion-person strong workforce and a vast quantity of resources at their bidding, China seems like an economic powerhouse…


Pagi itu pertengahan bulan Agustus 2012, aku menerima email dari teman baik ku Kenneth Sim dari  Singapura, yang mengajak untuk bersama pergi ke China pada  23 September 2012. Sebuah tawaran yang menarik karena aku memang ingin melihat negeri ini. Sebuah negeri yang telah banyak kupelajari; yang dalam waktu kurang dari 20 tahun berhasil mengubah dari negara ‘tirai besi’ yng tertutup, menjadi negara industri yang maju dengan kenaikan GDP yang menggagumkan. Dalam prosesnya dapat mengurangi penduduk miskin sebanyak 300 juta orang — ini lebih besar dari jumlah penduduk Indonesia! Jadi kalau diterapkan di Indonesia, maka di Indonesia saat ini tidak ada satupun orang miskin, bahkan ada tambahan 50 juta orang kaya. Aku merasa harus melihat sendiri perkembangan ini secara nyata, apa saja yang telah terjadi di negeri ini selama 20 tahun terakhir.

Sebenarnya, pada tahun 2009, aku sudah pernah pergi ke China, melihat ke dua kota terbesar –Shanghai dan Beijing. Waktu itu aku pergi bersama dengan rombongan para dosen Jurusan Arsitektur ITB (sekarang namanya SAPPK), untuk mengunjungi beberapa universitas terkemuka di China, sebagai bahan studi untuk memperbaiki Jurusan Arsitektur ITB. Jadwal yang amat padat, menjadikan kunjungan ini menjadi sebuah pekerjaan yang berat, karena hampir tidak ada waktu untuk berkeliling melihat berbagai obyek yang banyak di China. Aku hanya sempat melihat 2 obyek terbesar di China yaitu ‘Forbidden City’ dan “Tembok China’ yang terkenal itu.

Kali ini, aku ingin lebih santai menikmati negeri China, sehingga ku terima ajakan temanku ini, apa lagi setelah Ken menjelaskan bahwa biayanya amat murah. Aku hanya cukup membayar biaya tiket pesawat sampai Singapura saja!. Padahal 10 hari perjalanan dan menginap di hotel-hotel bintang 5. Bagaimana bisa? Memang ini merupakan program pemerintah China untuk memperkenalkan negeri mereka kepada dunia luar bahwa saat ini China sudah jauh berbeda dengan masa 15-20 tahun lalu.Tur istimewa ini disubsidi hampir 70% oleh Pemerintah China. Mereka yang terpilih untuk diundang, akan hanya membayar biaya tiket pesawat dari kota asal sampai ke Shanghai. Mereka akan ikut Tur selama 7 ( tujuh) hari mengunjungi  tempat serta lokasi-lokasi wisata  terbaik yang sudah dipilih oleh pemerintah China, bekerja sama dengan seluruh biro perjalanan yang biasa mengadakan tur- tur seperti itu. Bedanya untuk tur ini, semua penginapan di ‘up grade’ ke hotel Bintang 5 dan juga makan di restoran berkelas. Hebat bukan? Kapan pemerintah Indonesia punya program seperti ini.

Sudah tentu semua ini telah dipikirkan untung ruginya. Dari pengalaman ku sendiri, memang dengan melihat sendiri ke lokasi dan tempat yang di pilih, kita menjadi terbuka tentang keadaan China yang modern saat ini, amat jauh berbeda dari 10-20 tahun lalu. Pada gilirannya tentu banyak juga yang berminat untuk tinggal atau pulang kembali ke negeri mereka (untuk mereka yang merupakan ‘Overseas Chinese’ yang telah lama berdiam di luar China, sedangkan untuk mereka yang usahawan diharapkan tertarik untuk membangun usaha dan mengadakan investasi di negeri China. Sebuah gagasan yang sebenarnya sederhana, tapi sangat masuk akal dan menuai hasil yang positip. Untuk saat ini, program ini hanya berlaku untuk para ‘overseas Chinese’ dan pada waktu yang akan datang akan diberikan juga untuk mereka yang lain. Nah, pertanyaannya mengapa aku dan istri bisa masuk kedalam ‘privilege few’ ini? yaa, pertemanan ku dengan Kenneth Sim diatas, yang memberikan rekomendasi dan tentunya menjamin bahwa aku adalah kandidat yang termasuk dalam sasaran bidikan serta memenuhi kriteria yang dibuat oleh pemerintah China.

Tentu saja ini amat menyenangkan, tapi disegi lain bukan tidak menimbulkan masalah, paling tidak untuk kami …. Ketika akan menyetujui rencana ikut perjalanan ini, ku ajukan dua hal yang menjadi kekuatiran ku :

  1. Bagaimana dengan makanan di restoran China?, apakah bisa kami minta menu yang halal?
  2. Bahasa apa yang akan dipakai sebagai pemandu perjalanan nantinya? apakah bahasa Mandarin?

Pertanyaan pertama mudah dijawab; banyak pilihan makanan dan bila perlu bawa makanan sendiri dari Indonesia yang tahan lama. Pertanyaan kedua juga dijawab dengan mudah oleh Ken, bahwa kami tak perlu kuatir karena seandainya pemandu memakai bahasa Mandarin, maka masih ada dia dan istrinya Rani yang akan menjadi penterjemah kami. Dengan dua kekuatiran ku diatas terjawab, walaupun tidak sepenuhnya memuaskan, terutama soal bahasa, akhirnya aku putuskan untuk menerima tawaran yang langka ini. Kapan lagi bisa ke negeri China selama 10 hari, menginap di hotel bintang 5, makan di resto terkemuka, hanya dengan biaya tiket pesawat Jakarta ke Singapura? hmm.. sebuah tawaran yang jarang datang dan sulit untuk terulang lagi. (biaya tiket pesawat dari Singapura ke Shanghai dibayar oleh Ken).

Garis besar rencana perjalanannya begini : Kami harus ke Singapura dulu dan menginap semalam, kemudian pagi hari dari Changi, bersama Ken dan istri baru terbang ke Shanghai – melalui HongKong. Kota pertama adalah Shanghai sebagai home base perjalanan ini. Ken sudah merencanakan untuk datang 2 hari lebih awal dari perjalanan tur yang sebenarnya, untuk mengisi dengan acara kami sendiri yang lebih bebas dan santai – berkeliling Shanghai.

Sebuah gagasan yang bagus, karena biasanya perjalanan mengukuti tur, amat ketat waktunya dan tidak terlalu bebas. 2 hari pertama di Shanghai, kami menginap di SSAW Hotel di Renmin Road, lalu pindah ke ke hotel Wyndham Bund East, hotel bintang lima yang modern. Seluruh perjalanan dilakukan dengan bis turis yang nyaman, dengan rute sbb :

Shanghai – HongZhou – Nanjing – Wuxi – Suzhou – Shanghai. ( lihat peta)

China Itinenary Map

China-01-087_resizeChina-01-078 Berjalan kaki malam hari disekitar Hotel SSAW di Shanghai, untuk mencari makan malam.

Setiba di Shanghai kami menginap di hotel SSAW, Hotel Bintrang lima dengan rancangan kamar yang modern dan perabot yang kontemporer.  Malam pertama sengaja kami tak makan di hotel, tapi ingin jalan kaki sekitar hotel sambil menikmati suasana malam kota Shanghai. Beberapa blok dari hotel, kami sudah menemukan banyak lokasi dan tempat untuk makan malam, salah satunya adalah See Chuan Restoran. Yang mengherankan ternyata makan malam untuk kami ber enam, hanya Sin $ 70 ( Singapore Dollar). Padahal menurut Ken, kalau di Singapura bisa mencapai Sin $ 150-200. hmmm.. sebuah permulaan yang baik.

Kota Kuno ZHUJIAJIO – Venice of Shanghai

Pagi hari kami dengan bis menuju kesebuah desa yang dipertahankan sebagai kota tua yang di lewati sungai. Tempat ini adalah Zhujiajiao , Kota kuno di desa Qingpu, sebuah kawasan kota tua yang di pertahankan, termasuk sungai yang dulunya merupakan transport utama di desa itu.e of Shanghai,Xintiandi

China-01-228China-01-205_resize

Desa ini disebut juga ‘Venice in Shanghai’ . Kota kecil ini di sebelah danau Diansanhu yang indah. Ada 32 jembatan yang melintang sungai dengan di tepinya berderet rumah dua lantai.

China-01-263_resizeChina-01-257_resize Pemandangan menarik untuk para turis karena lengkap dengan perahunya, seperti halnya. lantai dua dari rumah2 ini biasanya dijadikan restoran, sehingga mereka yang makan bisa melihat keluar ke sungai dengan perahu2 yang lalu lalang seperti halnya di Venesia.

XINTIANDI – Kawasan kota di Shanghai yang dibangun dengan konsep modern

Setelah itu kami mengunjungi XinTianDi, ini sebenarnya daerah kota Shanghai yang di bangun kembali secara modern pada tahun 1930, oleh seorang pengusaha asal Hongkong, yang melihat potensi untuk mengubah kota tua yang kumuh menjadi kawasan modern dengan cafe yang bertebaran.

China-01-339_resizeChina-01-342_resize

Suasana yang nyaman dan santai karena banyak ditanami pohon-pohon kecil yang memberikan suasana taman. XinTianDi menjadi contoh pembangunan daerah kota lain nya yang di perbaharui tapi dengan konsep rancangan masa kini – dengan fasilitas toko-toko kecil dan cafe yang bertebaran di sekelilingnya.

Nanjing Pedestrian Street and The Bund

Menjelang sore hari kami naik taxi menuju salah satu titik di Nanjing Road, sebuah jalan raya yang lebar dan diubah menjadi pedestrian dengan berbagai pertokoan sepanjang jalan. Berjalan kaki disini sungguh nyaman karena lebarnya juga disediakan tempat duduk untuk berisirahat dengan pohon-pohon yang teduh.

China-Day1-10China-Day1-09

Tidak ada mobil yang lewat disini, dan mengherankan bangsa China yang kita kenal selama ini, sebagai bangsa yang jorok, ternyata tidak ada terlihat sepotong sampah pun berada di jalan. Ini merupakan salah satu usaha pemerintah China yang tak berkesudahan untuk mencapai tingkat kedisiplinan yang tinggi guna merubah citra bangsa.

Pada ujung yang satu Jalan Nanjing ini, tiba-tiba lorong jalan membuka dan bertumbukan tegak lurus sungai Huangpu. Ditepi sungai Huangpu juga di buat jalan super lebar dan disediakan sebuah pelataran yang amat luas untuk orang menikmati pemandangan Tepi sungai Huangpu yang berada di sebelah lain yaitu daerah Pudong,. Daerah ini dulunya adalah daerah persawahan, yang dalam waktu kurang 10 tahun di sulap menjadi daerah kawasan perkantoran dan perdagangan terbesar di Shanghai dikenal sebagai The Bund.

China-02-024China-02-035

Pemandangan daerah ini dengan bangunan pencakar langit, yang saling berebutan memecahkan rekor tertinggi didunia, sangat terkenal dan kelihatannya menjadi ikon-simbol kota Shanghai modern.

(Bersambung …)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s