Japan Momiji Photography Trip


14 – 20 November 2012

Hawa dingin langsung menyergap ketika kami mendarat dan berjalan keluar terminal penumpang – Kansai International Airport di Osaka, Jepang.

Aku bersama dengan 14 orang lainnya sedang dalam perjalanan untuk sesi fotografi selama seminggu di Jepang- memanfaatkan momen yang tepat saat musim gugur (autumn – antara Sep- November), ketika muncul penomena (autumn colours), warna daun pohon maple-momiji (Acer Palmatum) mulai berubah, semula hijau berubah dengan rentang warna mulai dari merah, jingga lalu menjadi kuning — warna-warna favorit ku.
Inilah saat-saat yang dinanti oleh banyak turis, yang menunggu saat daun mulai berubah warna sampai daun mulai gugur.

Ketika memasuki terminal penumpang, sebagai arsitek, aku tidak bisa melewatkan kesempatan yang langka ini untuk memberi sedikit ulasan mengenai bandara ini. Mengapa? Karena struktur bangunan ini amat menarik dan selalu kujadikan bahan untuk kuliah Struktur dan Bentuk di SAPPK (dulu Jurusan Arsitektur ITB).

Kansai Airport merupakan bandara terkenal didunia, walaupun termasuk sudah ‘tua’, tapi merupakan bandara pertama yang di rancang dengan teknologi terbaru (saat itu), yaitu terminal penumpangnya yang menggunakan bahan baja-ringan dan dengan bentuk dinamis.
Bandara ini menjadi bahan pelajaran dan contoh untuk bandara-bandara lainnya  yang dibangun kemudian diseluruh dunia. terutama dalam penggunaan material baja untuk struktur atap bangunan terminal penumpang.

Pembangunan fisik dimulai  tahun 1987, dimulai dengan membuat pulau buatan – menguruk laut diteluk Osaka. Terminal penumpang nya baru dimulai pembangunannya pada 1991 dan dan mulai dipakai secara resmi tahun 1994. Terminal penumpang ini yang pertama menggunakan rangka baja yang dirancang dengan amat menarik oleh arsitek  Renzo Piano. Bentuk bangunan menyerupai ikan paus yang muncul kepermukaan air.

Terminal penumpang Kansai International airport, dengan luas hampir 300.000 m2, dan panjang total bangunan 1,7 km, dari ujung ke ujung,  merupakan terminal yang terpancang di dunia (pada saat dibuka pada tahun – 1994).

Terminal ini mempunyai sistim People Mover yang canggih yang membawa penumpang dari ujung terminal ke ujung yang lain. Bentuk atapnya menyerupai sayap atau sirip (airfoil) dari sebuah pesawat udara. Bentuk ini dirancang untuk mengatur aliran udara kedalam bangunan. Sistim penghawaan dan penerangan juga tak kurang canggihnya dengan memanfaatkan bahan acrylic dan bentuk lengkungan ceiling yang unik, untuk memantulkan cahaya yang di semburkan keatas dari tiang2 khusus.

Dengan cara yang tidak biasa ini, tidak ada lagi terlihat lampu atau peralatan lainnya bergelantungan di ceiling, begitu juga aliran udara segar (AC) dilakukan dengan sistim yang sama – sebuah gagasan yang cerdas.

Aku tak bisa menikmati berlama-lama keindahan struktur terminal penumpang Kansai ini, karena seperti biasa perjalanan dengan rombongan mengharuskan disiplin mengikuti arahan pemandu kami. Proses imigrasi dan pabean berlangsung cepat, dan staf bandara walau dengan bahasa Inggeris terbata-bata, melakukan tugasnya dengan sopan dan efisien – tipikal orang Jepang.

OSAKA

Osaka dipilih sebagai kota pertama kami mendarat dan selanjutnya kami akan menyusur ke Utara menuju Nara dan Kyoto. Dari Kyoto baru kami akan mengarah ke Timur menuju Kawaguchi Fuji dan berakhir di Tokyo.

Osaka Castle

Merupakan kompleks istana yang dibangun pada abad 16. Yang menarik disini adalah dinding-dinding benteng ini yang terdiri dari tumpukan batu yang disusun ketat dengan presisi tinggi membentuk dinding dengan geometri yang sempurna. Dari jauh tumpukan batu-batu ini seperti batukali ukurannya, tapi setelah didekati ukurannya amat besar. Yang terbesar luasnya kira-kira 15 m2. Entah bagaimana dan dari mana batu raksasa ini diambil, dan bagaimana menyusunnya menjadi dinding mengelilingi istana – sungguh mengherankan dan menjadi hal yang menarik untuk dibayangkan, apalagi  bagi mereka yang biasa bergelut dengan pembangunan — menjadikan sesuatu dari tiada menjadi nyata, sebuah proses sejak mulai sejak desain sampai pembangunan fisik yang sungguh menarik untuk di pelajari.

Dinding batu dari Kompleks Istana Osaka

Dinding batu yang mengelilingi  Kompleks Istana Osaka

Salah satu gerbang menuju komplek Osaka Castle

Salah satu gerbang menuju kompleks Osaka Castle

Batu raksasa yang disusun secara rapi dan presisi sebagai dinding

Batu raksasa disusun membentuk dinding Istana

Bangunan Istana dalam kompleks Osaka Castle

Bangunan Istana dalam kompleks Osaka Castle

TODAI-JI Temple

Kompleks kedua yang kami singgahi adalah Todai-Ji Temple – Kuil Todai-Ji di kota Nara, 27 km sebelah Timur Osaka. Yang unik disini adalah adanya banyak sekali rusa yang berkeliaran dalam kompleks dan memang dibiarkan menjadi penghuni komplek kuil ini.

Kesan pertama adalah bangunan kayu yang kaya dengan detail-detail sambungan yang mengagumkan. Dibangun pada abad 16, dengan ukurannya yang raksasa, membuat kekaguman kita bertambah — bagaimana cara dan tekniknya mereka sudah bisa membuat bangunan yang seluruhnya terbuat dari kayu dengan detail-detail sambungan  yang rumit tapi menarik. Detail seperti ini, mungkin tidak akan pernah dibuat lagi sekarang.

Rusa berkeliaran bebas di kompleks Kuil Todai-Ji

Tiang-tiang utama dengan ukuran raksasa.

Kuil Todai-Ji - Nara, Japan

Kuil Todai-Ji – Nara, Japan

Detail sambungan kayu yg rumit dan unik

Selesai dari Todai-Ji temple, kami langsung menuju  kota Kyoto 60 km dari Osaka, lalu mencari hotel kami untuk malam pertama, yaitu ditepi danau Biwa, yang merupakan danau terbesar di Jepang.

Hotelnya adalah OTSU Prince Hotel, bintang lima dengan pemandangan ke danau yang indah. Denah massa bangunannya sengaja di desain melengkung, supaya semua kamar-kamar hotel yang terletak disepanjang deretan sisi melengkung ini, bisa menikmati secara maksimal pemandangan kearah danau Biwa yang indah ini.

Kiyomizudera dan Arashiyama .

Suhu hari ini cukup dingin, 10 derajat C. masih bisa diterima  dan tidak membuat kami menggigil ketika kami berangkat dari hotel menuju lokasi Kuil Kiyomizudera – Temple of Pure Water. Tapi setelah kami turun dari bis, berjalan kaki menyusuri jalan – jalan kecil menanjak menuju kuil, mulai terasa udara lebih dingin yang mengigit.
Aku menyesal tidak membawa sarung tangan tebal dan tutup kepala, karena jari-jariku mulai menjadi kaku dan sulit memegang sesuatu.

Pemandangan kearah Danau Biwa dari kamar No. 1604

Pemandangan kearah Danau Biwa

Japan slide 01-44

Tepi danau Biwa dilihat dari lantai 16

Kompleks Kuil Kiyomizu dera, seperti komplek yang lain sebenarnya merupakan sebuah daerah dengan banyak bangunan kuil lainnya . Bangunan utamanya adalah kuil tempat penganut Budha bersembahyang dengan kuil-kuil kecil lainnya merupakan

Bangunan yang berdiri ditepi tebing curam ditunjang dengan tiang-tiang yang tinggi. Ciri khusunya adalah adanya ruang-ruang besar dan banyak serambi (veranda) disekeliling kuil dengan pemandangan yang indah ke arah kota Kyoto. Bangunan ini dibuat dengan konstruksi  sepenuhnya kayu dengan sambungan yang tidak menggunakan sebuah paku pun.

Kompleks kuil Kiyomizu-dera dibangun pada th 798 dan bangiunan yang sekarang merupakan perbaikan kembali ( recontruction) yang lakukan pada 1633, yang diperintahkan oleh Tokugawa Iemitsu.

Namanya mengambil dari sebuah air terjun kecil yang ada dalam komplek yang berasal dari bukit dibelakangnya. Kiyomizu artinya air murni, atau pure water.

Dibagian dalam lobby utama ada air mengalir, dimana 3 aliran air dari gunung menyatu dan jatuh ke sebuah kolam. Pengunjung atau peziarah bisa menampung  atau meminum air ini dan dipercaya siapa yang meminum air ini (Pure water) , akan terkabul permintaan dan niatnya.

Lokasi ini amat di sukai turis lokal maupun dari luar, terutama pada musim ‘festival’ terutama festival tahun baru dan festival musim panas. Pada saat itu, banyak tenda-tenda tambahan dipasang yang menjual berbagai makanan tradisional dan tentunya souvenir khas Jepang.

Pada tahun 2007, Kiyumizu-dera masuk dalam nominasi sebagai salah satu dari 21 finalis untuk ‘New Seven Wonders of the World’. Tetapi, sayang tidak termasuk dalam tujuh buah lokasi yang terpilih.

Arashiyama, sebuah contoh Japanese Garden yang asli.

Dari Arashiyama hari sudah gelap dan suhu makin dingin, tutup kepala yang menempel di jaket terpaksa di pasang dan di ikat kuat-kuat agar menutup telinga. Sambil menggigil kami berjalan agak jauh mencapai tempat parkir bis kami, yang ternyata sudah ditutup dan kami agak kebingungan karena bis tidak berada di tempat. Setelah bertemu kami bergerak pulang mencari hotel kami berikut yaitu kembali menuju Osaka – Hotel APA Osaka.

Dalam perjalanan banyak hal-hal baru tentang Jepang yang ku dengar dari pemandu kami si Neneng Jebred yang ternyata banyak mengenal Jepang dan menceritakaannya dengan cara yang jenaka.

Dari data demografi, saat ini Jepang sedang dilanda kesulitan dan di prediksi tahun 2030 akan bangkrut, karena 2 dari 3 orang Jepang ternyata penduduk lansia, lebih banyak orang tua dibanding  anak-anak muda, padahal mereka nantinya yang harus menjadi generasi penerus, angkatan kerja produktif yang akan menjadi pembayar pajak.

Jepang bisa membiayai jalan-jalan tol yang luas, infra struktur yang nyaman dan bersih, angkutan massal yang baik, semua diambil dari hasil pajak. Generasi muda nya sekarang ini, tidak ingin menikah dan ingin menikmati hidup, bersenang-senang dan lebih banyak yang menghabiskan uang orang tua mereka untuk mengejar keinginan dan gaya hidup yang banyak di pengaruhi oleh Barat.

Pemerintah Jepang sangat kuatir akan hal ini dan amat menganjurkan rakyatnya untuk menikah dan punya anak. Mereka yang bersedia akan banyak mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah. Kebijakan ini ternyata juga ikut dinikmati oleh orang non-Jepang seperti si Abby, pemandu kami ini yang sudah bermukim dan berkeluarga di Jepang selama 7 tahun. Sewaktu melahirkan anak pertama dia mendapat tunjangan melahirkan kira-kira Rp. 30 juta, ternyata biaya melahirkan kurang dari itu dan hebatnya sisanya bukan dikembalikan lagi ke negara, tapi diberikan kepada yang bersangkutan. Suatu kebijakan yang baik sekali untuk ditiru dan dilaksanakan di Indonesia.

Hotel APA Osaka, ternyata terletak di jalan yang tidak bisa di masuki oleh bis. akibatnya kami berhenti disebuah perempatan dan dalam kondisi hujan rintik, dan udara yang dingin, kami harus mengeluarkan koper satu persatu dan menariknya sejauh 500 meteran menuju hotel.


Minggu, 18 November 2012

Nabano No Sato di Mie Prefektur

Perjalanan hari ini merupakan yang terjauh, kira-kira 400 km dari Osaka menuju Kawaguchi melalui Nagoya. Cuaca diramalkan akan hujan dengan suhu mencapai 8 derajat C. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bisa dilihat karena hujan dan awan gelap.

Kami tiba di Mie prefektur dan berhenti di Nabana No Sato, sebuah kompleks taman bunga yang luas terdiri dari taman luar (outdoor) dan taman dalam ruang (indoor), yang khusus untuk bunga Begonia,

Taman bunga ini sangat istimewa karena luasnya mencapai 8 hektare dan ditanam segala macam bunga. Yang didalam bangunan tertutup, dilengkapi dengan peralatan khusus, sehingga dapat tumbuh dan dipamerkan sepanjang tahun. Sedangkan yang di taman luar diberi penerangan dan pencahayaan khusus. Selama musim panas, pada malam hari menjadi pertunjukan yang menarik yang disebut illumination.

Taman bunga yang diluar tak banyak bisa dilihat karena suasana tidak bersahabat, sehingga kami hanya melihat yang didalam ruang. Begitu masuk kami semua berteriak ” Ooh, wow, !”, melihat  warna warni bunga Begonia yang sangat menarik di dominasi warna merah.
Sudah tentu kesempatan jeprat jepret tidak dilewatkan. Pada sudut-sudut tertentu ada juga beberapa turis lokal berfoto didepan susunan bunga-bunga yang indah ini. Karena luasnya daerah taman ini, maka disekeliling lokasi juga di bangun berbagai macam restoran yang menyuguhkan berbagai jenis makanan dari berbagai bangsa, semua ada disini.

Rombongan kami setelah kedinginan berjalan dalam taman akhirnya masuk  satu resto yang berada di dalam taman untuk menyantap makan siang yang sudah dipesan pemandu kami berupa udang dan kepiting dan nasi hangat.

Yang menarik, karena pesanan makanan terlalu besar porsinya,  beberapa piring  kami kumpulkan untuk bisa di bungkus, kemungkinan masih bisa dimakan nanti di hotel. Ternyata pihak resto ini tidak membolehkan kami membawa makanan yang tidak termakan untuk di bungkus . Malu juga rasanya, kebiasaan di melayu, di bawa-bawa kesini – yaitu makanan sisa, minta dibungkus.

Taman Bunga Nabana No Sato - Ruang luar

Taman Bunga Nabana No Sato – Ruang luar

Japan Slide-02-14

Bunga Begonia – Taman Bunga Ruang Dalam – Indoor Garden

Japan Slide-02-16

Warna warni yang mencolok

Japan Slide-02-20

Melihat keluar dari lobby Indoor Garden

Menjelang sore, dalam kondisi masih hujan, kami berangkat menuju Kawaguchi, daerah disekitar danau Saiko, dimana terletak gunung Fuji yang terkenal itu. Sepanjang perjalanan hujan masih terus turun sampai menjelang malam. Jam 20:00 kami tiba di Hotel HAMAYOU Resort, hotel yang dipilih khusus, berupa resort hotel, tidak terlalu besar, tapi kamarnya mempunya ruang Tatami, yang cukup luas untuk bisa dipakai 5-6 orang.

( …. bersambung )