Ada Alien di Pulau Natuna


Perjalanan ke Pulau Natuna

Pertengahan April lalu, aku diundang seorang teman baik, Ir. Both Sudargo ( Ars ITB ’65) untuk datang ke Pulau Natuna. Kuterima undangannya karena aku tertarik dengan ceritanya dan juga karena aku belum pernah ke Natuna, salah satu pulau yang terletak paling utara dalam jajaran kepulauan di Indonesia.

Bebatuan Aneh dipantai Ranai, Pulau Natuna

Bebatuan Aneh dipantai Ranai, Pulau Natuna

A
ku  kesana untuk melihat keindahan pulau Natuna juga sekaligus untuk mencari peluang usaha yang menurut temanku ini sangat terbuka di pulau nan indah dan kaya ini.

Ada banyak kemungkinan ditawarkan olehnya, yaitu untuk bidang pariwisata, yaitu membangun cottages atau hotel terapung ditepi pantai dan yang kedua adalah usaha perikanan, pembuatan kapal, penyediaan bahan bakar dan air tawar untuk kapal-kapal yang singgah.

Alif Stone Park

Dari airport Ranai – ibukota Kabupaten Natuna, kami dengan kendaraan menyusur pantai Timur pulau Natuna. Sewaktu mendengar nama ‘Alif Stone’ ini disebut oleh temanku Both Sudargo, terdengar di telinga ku seperti ‘Olive Stone’ – batu berwarna olive (seperti hijau lemon), tapi aku salah, ternyata yang di maksud Both adalah Alif, huruf pertama abjad bahasa Arab.

Mengapa demikian?, karena dari sekian banyak onggokan batu-batu yang aneh bentuknya ada satu yang menyerupai huruf ‘Alif’.

Dari penuturannya yang sedikit berbau mistis – religious, Both sangat terkesan dengan apa yang ditemukannya di Pulau Natuna ini, terutama di beberapa lokasi disepanjang pantai Timur Natuna. Obsesinya akan tempat ini, mendorongnya untuk mencoba memiliki lokasi ini walaupun dia sendiri tidak pernah membayangkan akan sanggup membelinya.

Dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa, temanku Both berhasil dan sangat beruntung bisa memiliki daerah seluas 2 ha ditepi pantai Natuna ini dimana tepat didepannya berserakan batu-batu aneh, berbagai ukuran seakan di sebarkan oleh ‘alien’ – mahluk asing dari angkasa luar.

Dia membangun rumah nya hanya dengan memperbaiki bangunan sederhana yang sudah ada sebelumnya, dengan mempertimbangkan lingkungan nya, yaitu meletakkan rumahnya di antara celah-celah bebatuan, tanpa merusak sedikitpun atau memindahkan batu yang ada.


Ditepi pantai tepat didepan tanah both berserakan batu berbentuk aneh
Bebatuan aneh tidak hanya terletak di tepi laut, tapi juga di darat.


‘Gerbang Utama’ – Entrance rumah Both diantara bebatuan, dibuat dari bahan yang mirip


Setelah lewat ‘Gerbang Utama’ , batu miring ini mengapit ‘path-way’ ke pintu rumah.


Jalan masuk dari papan didepan rumah Both


Tepat didepan rumah kita bisa langsung menatap batu-batu dari ‘angkasa luar’ ini.


Untuk memudahkan pencapaian, Both membuat jembatan papan


Batu-batu raksasa ini saling bertumpuk, tetapi hanya bertumpu pada titik yang kecil


Letak dan titik singgung beberapa batu membentuk celah sempit yang unik.


Ada juga batu raksasa yang terbelah ditengah tetapi tetap pada tempatnya.


Dari mana batu-batu ini berasal? mengapa terdampar hanya di Natuna?

Pertanyaan serupa diajukan pa Both kepada kami. Dari mana sebenarnya batu-batu ini berasal? mengapa bentuknya lain dari batu yang berasal dari letusan gunung berapi. Permukaannya halus tapi bergurat-gurat membentuk lipatan vertikal yang unik, mengapa hanya ada di pulau Natuna?

Kisah ini memang penuh misteri dan sedikit berbau meta fisik. Konon, ceritanya lagi, di dunia ini ada dua tempat yang misterius; yang satu adalah ‘Bermuda Triangle’ , yang terletak di laut Atlantik, antara Florida, Puerto Rico dan pulau Bermuda. Di kawasan segitiga ini, berbagai benda, pesawat udara, kapal laut banyak yang menghilang ditelan masuk kelaut tanpa bekas. Sedangkan lokasi yang satu lagi di yakini berada di sekitar pulau Natuna ini, di Laut Cina Selatan.
Bedanya di lokasi ini, benda-benda yang mendekati lokasi justru akan diangkat naik keatas, entah kemana, seakan di tarik oleh suatu kekuatan yang maha besar tersedot keatas, kemudian dilemparkan kembali ke bumi, laiknya seperti digambarkan dalam film-film science-fiction dengan tema Aliens Abduction’ .

Nah, diyakini, batu-batu ini sebenarnya ‘by-product‘ dari proses penyedotan keatas ditelan Black Holes’, kemudian dimuntahkan kembali kebumi dalam bentuk yang aneh ini.
Hmm.. cerita fiksi ilmiah yang menarik, aku bisa membuat cerita khusus mengenai hal ini.

Sudah banyak turis yang mengunjungi komplek rumahnya ini, yang menjadi terkenal dengan nama yang di ciptakan sendiri yaitu Alif Stone Park. Banyak juga pengunjung yang menyatakan minatnya untuk tinggal lebih lama menikmati keindahan batu-batuan ini serta pemandangan pantai yang indah, Masalahnya, sangat disayangkan tidak ada fasilitas hotel yang memadai.

Salah satu gagasan bisnis temanku Both adalah untuk membangun hotel-hotel kecil terapung disekitar tanahnya ini, sehingga memberi akomodasi yang baik untuk para wisatawan yang ingin  tinggal lebih lama di pulau yang menarik ini.

HARMONI ONE, Convention Hotel terbesar di  Batam

Soal hotel, memang ku alami sendiri, di kota Ranai hanya ada satu hotel yang layak untuk dihuni – itupun kebetulan sudah di pesan jauh hari oleh Both sehingga kami berdua bisa mendapat tempat. Sangat berbeda dengan di Batam, sewaktu kami menginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Natuna.

Lobby hotel Harmoni One – bisa main bola !

Di Batam kami tinggal di Hotel Harmoni One, hotel raksasa dengan jumlah kamarnya lebih dari 300 buah! Luas lobby nya pun bisa dipakai untuk main bola! Hotel ini besar sekali untuk ukuran Indonesia.
Pemilik hotelnya, kelihatannya bersiap menangkap pangsa pasar para tamu bisnis dan juga wisatawan dari Singapur yang banyak berdatangan ke Batam.

Hotel Natuna – terbaik di Ranai – Pulau Natuna

Masjid Besar Ranai, Natuna.

Dari rumah Both, kami mengunjungi salah satu proyek kebanggaannya, yaitu kompleks Masjid Ranai yang dirancang master plan dan bangunan masjidnya oleh Both Sudargo sendiri.
Aku heran melihat skala masjid ini yang cukup besar untuk ukuran Natuna. Barangkali memang dirancang sebagai Masjid Utama untuk menampung kebutuhan masa mendatang. Ukurannya memang impresif! begitu pula master plannya didukung oleh ukuran tanah yang amat luas. Pemilihan bahan juga menjadi pertimbangan utama oleh Both, dengan spesifikasi bahan-bahan  terbaik untuk mencoba mendekati Masjid Nabawi di Madinah, yang terkenal dengan ‘Green Dome’ nya itu.

Ketika masuk komplek kami dipandu dua jalur jalan lebar dan panjang yang mengapit sungai kecil buatan yang amat monumental mengarah ke bangunan utama masjid.
Setelah mendekat ke masjid, mulai terlihat ada beberapa kekurangan dalam pengerjaan detail-detail bangunan, serta pemakaian bahan-bahan bangunan yang tidak sesuai dan sudah mulai terlihat tanda-tanda ke aus an . Both sendiri mengaku merasa kecewa karena spesifikasi yang di buatnya telah banyak berubah, diganti bahan lain, tanpa seizin dia sebagai arsitek perencana. Satu hal yang sangat ‘depressing’ untuk seorang arsitek.

Maket Master Plan Masjid Ranai – Natuna

Pintu masuk utama Masjid besar Ranai

Rancangan interior yang menarik dengan banyak memasukan cahaya alami

Kerapu Macan

Hari kedua di Pulau Natuna, kami berempat : Both, BS, George, Rodhial dan Reddy,  merencanakan untuk menyebrang ke pulau-pulau di sekitar Natuna.
Pa Rodhial adalah seorang pemuda putera asli daerah Natuna, teman baik pa Both yang diperkenalkan kepada kami, karena pengetahuannya yang luas tentang Natuna ini.
Aku terkesan dengan pengetahuan yang luas dari putra daerah ini. Selain soal teknis dan bisnis, dia juga banyak berbicara tentang soal hukum, terutama hukum laut ( Maritim Law), yang menurut dia justru akan menjadi kunci dari keberhasilan negeri kepulauan seperti Indonesia.
Rencananya hari ini Pa Rodhial akan menyertai dan memandu kami melihat semua potensi yang ada di Natuna ini.

Kami berangkat pagi dari Hotel karena acara hari ini  direncanakan akan penuh sampai malam. Dari hotel  kami menuju pelabuhan Lampat dengan mobil, yang berjarak 60-70 km. Jalan menuju Lampat, relatif baik ber aspal, tapi tidak terlalu lebar. Yang mengherankan tidak banyak bertemu dengan mobil lain sepanjang jalan. Aku baru sadar, pulau Natuna ini merupakan pulau paling Utara dari semua gugusan pulau-pulau Indonesia. Tidak banyak penerbangan ke Natuna. Selain itu tidak banyak yang bisa dilakukan di pulau terpencil ini, karena letaknya di tengah samudera luas jauh dari mana-mana, sehingga bisa di maklumi penduduknya sedikit dan tidak banyak mobil yang masuk kesini.
Dipelabuhan Lampat sudah siap satu perahu Pompong, perahu dengan motor tempel, yang akan membawa kami ke tiga buah pulau yang ada didepan Natuna.
Ada tiga pulau yang akan kami kunjungi, dari ketiga pulau hanya satu yang berpenduduk, yang kebanyakan nelayan dan kami mendarat dipulau ini, lalu berjalan kaki di kota terapung .

Disini aku baru mendapat cerita dari Pa Rodhial tentang bagaimana sebenarnya potensi hasil laut kita, yang amat melimpah tapi selalu dimanfaatkan oleh pihak luar. Salah satu yang amat diminati oleh nelayan asing adalah ikan Kerapu Tiger  (Epinephelus coioides) atau Kerapu Macan.
Setiap dua hari  ada kapal dari Hongkong yang merapat ke pelabuhan Natuna dan membeli semua hasil tangkapan para nelayan penduduk Natuna.

cc191-natunatrip30

Reddy, Both, BS dan Rodhial – Berhenti sebelum Mendekati Pelabuhan Lampat. Selanjutnya dipelabuhan Lampat, telah siap menunggu satu perahu ‘pompong’ yang akan membawa kita kepulau-pulau didepan Pulau Natuna.

d0fb8-natunatrip34

Both Sudargo dan George ditemani Rodhial dalam perahu ‘pompong’, melewati salah satu pulau didepan pulau Natuna. Terlihat ditepi pantai sudah mulai ada pembangunan di pulau ini, bisa dipastikan pembangunan ini tidak ber pola dan tidak ada masterplan untuk petunjuk membangun di daerah ini.

Rumah terapung dibangun dipantai oleh para nelayan

Salah satu cluster Keramba Ikan Kerapu

Dalam 2 hari, semua hasil nelayan lokal hanya menghasilkan paling banyak 1 ton ikan berbagai jenis, sedangkan kebutuhan kapal dari Hongkong ini untuk memasok ikan ke restoran-restoran di Hongkong saja sekitar 15 ton sehari. Bayangkan ! betapa  masih banyak yang masih harus di supply, dan membuktikan masih banyak yang bisa dikerjakan di Pulau Natuna ini.

Masalahnya para nelayan Pulau Natuna hanya memakai kapal-kapal kecil, mereka namakan ‘Pong-pong – kapal kecil dengan motor tempel.
Kapal seperti ini tidak bisa melaut terlalu jauh, paling jauh hanya 3  mil, sedangkan batas perairan kita sampai 6 mil. Sehingga pada lokasi ini dimana banyak sumber ikan berbagai jenis, semuanya di ambil nelayan dari negara lain, terutama Thailand dan Vietnam (lihat peta).

Kekurangan akan ada nya kapal yang bisa melaut sampai batas terjauh, bisa dilihat sebagai peluang usaha yaitu untuk membuat kapal-kapal nelayan yang lebih ringan, tahan cuaca dan tak mudah rusak, yaitu membuat kapal terbuat dari bahan fiberglass.
Gagasan ini sebenarnya sudah ada dan dilaksanakan oleh pa Rodhial, salah seorang putra asli daerah Natuna yang jauh hari sudah melihat potensi yang terpendam dari negerinya ini. Dia sendiri sudah mengusahakan pembuatan kapal fiber glass ini, dengan memakai modal sendiri disalah satu lokasi pulau ditanahnya sendiri. Sayang karena ketiadaan penyandang dana, usahanya baru sampai membuat ‘proto tipe’, sebuah canoe, yang diperlihatkan kepada kami. Yang penting, teknologi nya sudah di kuasai.


Pa Rodhial perlihatkan lokasi pembuatan prototip perahu


Hasil percobaan perahu dengan bahan fiberglass

Masalah lain yang dihadapi disini adalah ketiadaan bahan bakar solar. Jatah yang didapat untuk pulau terpencil ini amat sedikit- tidak mencukupi untuk semua kebutuhan pulau. Sehingga mempunyai kapal yang baikpun, belum tentu bisa melaut kalau tidak ada bahan bakar.
Hal ini bisa merupakan peluang usaha yang lain, yaitu untuk mempunyai usaha penyediaan bahan bakar serta sistim distribusi nya yang efisien, bahkan menurut Rodhial, bahan bakar ini pun terkadang diperlukan untuk kapal-kapal lain dari negara lain yang sedang berlayar dan singgah, berhenti buang jangkar di pulau ini.
Sampai sekarang, kelihatannya belum ada yang mendalami semua peluang usaha ini, keungkinan semua saling menunggu.
Ketiadaan sarana transport dan akses yang sulit membuat para usahawan harus menghitung untung ruginya. Hal ini mungki karena tidak adanya sarana menginap atau transport lokal yang baik. Sebaliknya kalau ada sarana yang baik, maka orang akan banyak akan datang. Ini seperti teka teki ‘telur dan ayam’ . Siapa yang berani lebih dahulu untuk menanamkan modalnya berinvestasi di Pulau Natuna ini. tentunya akan menuai hasil yang baik, sepanjang semua faktor dipenuhi. Aku sendiri, setelah melihat semua peluang usaha di pulau ini, berpendapatapi banyak bidang usaha yang bisa di garap dipulau yang terpencil ini.
*****

7 thoughts on “Ada Alien di Pulau Natuna

    • Terima kasih komentarnya. Bisnis yang menarik cukup banyak, tapi ya seperti uraian saya.
      Pulau ini masih ‘terpencil’ belum banyak akses kesana. Jadi investor semua ‘saling tunggu’,siapa duluan yang mau menjadi ‘pioner’ – yang biasanya harus banyak berkorban, tapi sebaliknya kalau menunggu sampai semua sarana tersedia, barangkalai kesempatannya yang terbaik sudah keburu diambil orang…

  1. tulisan yang sangat bermutu sekali pak.. saya senang anda bisa berbagi informasi ini ke semua teman2 di dunia.. saya berniat berinvestasi di pulau tersebut tapi tidak tau besarnya biaya disana….

  2. Sdr. Titi Leon,

    Soal besarnya biaya investasi, tentu tergantung dari usaha apa yang akan dilakukan. Yang potensial saat ini tempat penginapan . Dari pembicaraan saya dengan Sdr. Rodhial, kalau untuk start mungkin 1-5 milyar bisa dipakai untuk membeli sebidang tanah, kemdian membangun cottage2 sederhana ( justru jangan yang modern dari beton!) dilokasi yang banyak di kunjungi orang.
    Kalau anda amat berminat , saya bisa berikan kontak pa Rodhial yang lebih menguasai soal seluk beluk di pulau Natuna ini.

    BS.

    • Terima kasih untuk rencana liputannya.
      Bersama ini no Hp Bp. RODHIAL HUDA NATUNA : 0812 7002 2225. Semoga rencananya bisa dibahas dengan Pak Rodhial dan berjalan lancar.

      BS.

  3. tulisan yg sangat menarik pak, saya pernah ke natuna karena sebagai tempat Kuliah Kerja Nyata saya pada bulan juli dan agustus 2013, saya pun pernah bertemu dengan pak rodhial saat lebaran di pulau 3, berbincang dengan beliau menurut saya sangat menarik, namun dari tulisan bapak saya juga mendapatkan wawasan baru mengenai natuna, terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s