The Hunger Games – Film Box Office?


“Hope, it is the only thing stronger than fear“ -President Snow-The Hunger Games.

Membaca tulisan Amrie tentang daftar film-film baru  akan akan beredar, aku teringat tulisanku tentang film The Hunger Games yang tertunda karena aku harus pergi ke Pulau Natuna (cerita lain untuk perjalanan ke pulau yang eksotik ini).

Hari Minggu, permulaan bulan April lalu, aku dan keluarga menyempatkan diri untuk menonton  film yang sedang diputar di Indonesia dan menjadi Box Office di Amerika : The Hunger Games.

Film ini baru pada minggu pertama pemutarannya sudah menghasilkan $ 155,000,000 , langsung menduduki puncak , menjadi  film Box Office, mengalahkan Wrath of The Titans , pemegang rekor sebelumnya.

Katniss- Gale

Mengapa aku tertarik untuk menonton film ini? Karena aku sudah membaca ketiga buku triloginya karangan Suzanne Collins. Aku sebenarnya tak sengaja membeli dan membaca buku ini…

Ketika itu sedang browsing untuk mengisi gadget terbaru ku – Kindle Fire ( cerita khusus tentang gadget ini), dengan eBook, mata ku tertegun melihat  daftar buku fiksi best seller versi USA TODAY untuk bulan Agustus 2011,  terpampang dari 10  Buku Terlaris, dan ternyata tiga di antaranya dihuni oleh penulis yang sama : Suzanne Collins.

She must be pretty darn good !” ku pikir dalam hatiku… , bukunya sampai tiga buah, semua masuk dalam daftar buku terlaris !

Tanpa pikir panjang aku pesan ke tiganya melalui  Amazon, dan hanya dalam 5 hari ketiga bukunya bersama dengan pesananku yang lain sudah tiba di rumah – (hmm…, suatu kemajuan teknologi  dalam jual-beli, pesan dan kirim barang yang menakjubkan !)

Ini adalah salah satu buku yang kubaca habis, tanpa jeda sejak membuka halaman pertamanya. Buku pertamanya dari trilogy nya Suzanne Collins : The Hunger Games, kubaca habis dalam waktu  8 jam!.

The Hunger Games – The Book1

Catching Fire

Catching Fire – The Book2

Mocking Jay

Mocking Jay – The Book3

Suzanne Collins, memang penulis yang handal, pandai bercerita dan merangkai kata menjadikan sebuah  novel yang penuh ketegangan yang dibina secara terus menerus , tapi  mempunyai  banyak ‘twist’ (berganti arah) yang mengejutkan dalam alur ceritanya.

Plot ceritanya adalah : pada masa yang akan datang , negara Amerika yang sekarang menjadi sebuah daerah yang bernama Panem, terdiri dari Kota Penguasa bernama The Capitol, dan dikelilingi oleh 12 buah Distrik (daerah).

Sebagai hukuman atas pemberontakan masa lalu, pihak penguasa, mewajibkan setiap tahun, dari tiap District menyediakan 2 orang , pemuda dan pemudi warganya, yang berumur atau 14-18 tahun untuk di undi, mengikuti The Hunger Games, pertarungan hidup mati dimana semua peserta terpilih, 24 orang, akan di lepas didalam sebuah hutan. Mereka harus berjuang mencari makanan, dan senjata dan saling bunuh untuk bertahan hidup dan menjadi pemenang .

Plot ceritanya sebenarnya penuh kekerasan – violence, dan agak sadis, bayangkan para remaja di adu dalam sebuah turnamen saling bunuh, yang sengaja diciptakan oleh penguasa untuk di tonton oleh seluruh penduduk negeri. Tapi Suzanne Collins menceritakannya dengan baik sedemikian rupa, dia berhasil menonjolkan secara rinci pembentukan karakter dari semua yang tokoh dalam bukunya, terutama pertentangan batin antara dua tokoh utamanya. Kita tenggelam dengan alam pikiran Katniss Everdeen, tokoh utama wanita dalam cerita ini, sehingga tak terasa kekerasan dan ke ‘brutal’ an yang ada.

Apa yang menjadi gambaran di kepalaku setelah membaca buku ini dan tahu akan di buat filmnya?

Tokoh utama dalam film ini adalah jagoan wanitanya Katniss Everdeen, yang tangguh dalam survival, larinya kencang seperti kijang, pandai memanjat pohon, bak kera di hutan serta jagoan memanah ala Robin Hood.

Milla Jovovich

Aku membayangkan yang cocok untuk peran Katniss Everdeen adalah Milla Jokowi , oops ..salah.., bukan keponakannya pak Jokowi (Joko Widodo) , calon  Wagub DKI yang sedang naik daun itu, tapi Milla Jovovich, bintang cantik kelahiran Kiev, Ukraine, yang  mulai karirnya sebagai  model lalu pindah main film. Belakangan  Jovovich banyak membintangi film-film laga  seri Resident Evil, seperti  Resident Evil : Apocalypse , dan Resident Evil: Extinction , dan sequelnya. Untuk film ini Jovovich mendapat  nominasi untuk  “Best Fight Scene Award” dari MTV Movie.

Eeh,… kenapa jadi membicarakan Milla JOVOVICH?, siapa sebenarnya yang akhirnya memerankan Katniss Everdeen dalam The Hunger Games? Ternyata yang terpilih adalah JENNIFER LAWRENCE. Jangan salahkan aku, kalau aku gak pernah dengar nama ini sebelumnya. Aku rasa banyak juga dari anda yang gak pernah tahu tentang dia kan?

Ketika melihat trailernya, Jennifer Lawrence, menurutku sangat berlawanan dengan karakter Katniss Everdeen. Jennifer halus, ukuran badannya sedikit terlalu tinggi dan kurus, gerakannya dan jalannya gemulai, beda dengan Katniss yang dalam bukunya digambarkan sebagai wanita yang kuat dan tegar, penuh didera penderitaan dan matang dalam ber’tahan hidup di alam luar yang ganas.

Jen Squat Jennifer Lawrence

Jen with bow Jennifer Lawrence as Katniss Averdeen

Sulit dibayangkan potongan seperti Jennifer Lawrence, mewakili tokoh yang tinggal di Distrik 12 yang penuh kemiskinan dan kelaparan berat akibat politik dari penguasa saat itu, apalagi bisa survive dan keluar sebagai pemenang dalam pertarungan ‘the Hunger Games’.

Berbekal semua ini di kepala, aku memaksa mengajak istri dan dua anakku Danti dan Diona  untuk menontonnya di PIM2. Malam itu sebenarnya merupakan malam yang istemewa buat kami, karena setelah sekian lama, jarang- bisa pergi bersama, malam itu kami bisa ber empat, makan malam dan menonton film bersama.

Setelah membeli 3 kotak popcorn dan 4 botol minuman, kami memasuki Teater 1, untuk menikmati The Hunger Games – The Movie.

Peringatan :

Tulisan ku ini, bisa mempengaruhi keputusan anda  – untuk menonton atau tidak film box office ini .  Silahkan berhenti membaca kalau anda (yang belum sempat menonton) masih ingin menonton. Mereka yang tetap ingin menonton, paling banter rugi waktu 122 menit, dan Rp. 50 ribu harga tiket (tidak termasuk popcorn, snack dan minuman). Untuk mereka yang mau tunggu DVD nya, paling anda rugi Rp. 6 ribu, harga satu DVD (bajakan pula!)

Aku sadar bahwa aku bukan target audience yang utama untuk film ini, karena film ini untuk remaja dengan rating : PG  Parental Guide -13.  Cocok untuk remaja – teenagers umur antara 14 sampai 18 tahun.

Dengan kesadaran seperti itu, aku duduk dengan santai sambil berkata dalam hati :” sit back and enjoy the movie, at least the visual side of it ”. Ternyata harapan ini juga tidak tercapai. Mengapa? Nah.. , simaklah tulisan dan kritik ku dibawah ini dan bandingkan dengan pengalaman anda sendiri .

Plot dan Story line :

Film ini sudah mengikuti storyline yang standard tapi terasa tidak ada kedalaman dalam emosi yang ingin disampaikan, terasa datar dan pembentukan karakter dari tokoh-tokohnya hampir tidak ada, kecuali hanya pemain utama. Padahal dalam bukunya, setiap tokoh diceritakan karakternya dengan sangat rinci oleh penulis, dan hubungan yang dinamis diantara setiap pemain, apalagi diantara peserta yang terpilih dalam pertarungan Hunger Games, mereka bukan musuh, ada yang teman baik, bahkan ada yang merupakan kekasih, padahal mereka harus saling membunuh.

Kematian demi kematian yang tergambar di film tidak menimbulkan efek apa-apa pada penonton, padahal kematian Rue, salah satu lawan Katniss, yang malah menjadi teman, sangat mengharukan dan menyentuh hati. Bagaimana mungkin menggambarkan ke brutalan, kekerasan dan ke sadisan dalam bukunya Collins, tapi di kemas dalam film dengan PG-13 rating, yang sepantasnya untuk film-film nya Walt Disney.

Pemain:

Waktu kubaca bahwa Suzanne Collins , sebagai penulis juga ikut dalam tim director, aku pikir hasilnya akan baik. Ternyata ini bukan jaminan, pemilihan pemain hampir semua tidak sesuai, termasuk para pemain yang bukan tokoh utama. Mereka terlalu ‘halus’ penampilan, expresi wajah  dan juga pakaiannya, tidak menggambarkan mereka hidup di distrik yang menderita kemiskinan dan kelaparan berat. Ini cerita tentang Hunger Games, tapi tidak seorangpun kelihatan menderita kelaparan !.

Camera :

Menurut ku, siapapun sutradara yang mengarahkan camera-man, atau  yang pegang camera, harus di gantung sampai mati.  Betapa tidak!, mereka kelihatannya menggunakan hand-held camera untuk ambil gambar dengan dengan hasil yang bergerak amat cepat, kekiri dan kekanan, balik kiri lagi, closeup muka, long shot pohon, cut – kaki, cut – muka lagi, diambil dari berbagai sudut aneh, membuat kepalaku pusing, rasanya seperti dimasukkan dalam mesin cuci lalu ditekan tombol ‘spin’.

Gambar-gambar yang berpindah-pindah dengan amat cepat ini, mungkin 45 frame per detik, barangkali ingin menggambarkan ketegangan, dan kesibukan luar biasa, tapi nyatanya mereka gagal dalam menampilkan suasana, perasaan, penderitaan, serta aksi perkelahian dari para peserta Hunger Games ini.

Fighting Scenes :                                                                                      

Sebenarnya inilah yang ku tunggu – adegan perkelahian dalam pertarungan hunger games, ternyata, separuh film ini dipakai untuk mempersiapkan kearah ini tapi banyak adegan tidak perlu dan alur cerita yang berjalan lambat. Ku lirik kesamping ketika istriku mulai menguap. Aku tidak bisa menyalahkannya, karena aku sendiri juga mengantuk dan mulai bosan menunggu klimaks film ini

Ketika tiba pada adegan di hutan dimana The Hunger Games dimulai, kembali aku di kecewakan. Adegan nya juga tidak seperti yang ku bayangkan. Dalam menit-menit pertama Hunger Games dimulai, hampir sepuluh remaja peserta Hunger Games sudah berjatuhan terbunuh, tidak jelas bagaimana caranya dan siapa membunuh/dibunuh siapa.

Dalam aksi perkelahian, gambarnya juga berkelebatan, tidak terlihat tangan siapa kena kepala siapa, kaki mana menendang punggung siapa, begitu juga senjata siapa masuk kena kemana, tiba-tiba korban sudah jatuh, itupun kalau tidak di closeup, kita tidak tahu siapa yang kalah dan tergeletak…( barangkali ini karena di label PG-13, tak boleh ada kekerasan atau darah bermuncratan, seperti dalam film-filmnya Sam Peckinpah (Bring Me the Head of Alfredo Garcia) atau Quentin Tarantino ( Kill Bill – Inglourious Basterds ).

Harapan ku terlalu tinggi, mestinya mereka sewa ahli  fighting scene seperti dalam film-film laganya Jason Statham – The Transporter atau Matt Damon dalam seri Bourne Identity.

Setting Lokasi dan CG ( Computer Graphics) :

Ini satu-satunya hal yang positif dalam film ini. Sebagai Arsitek , membaca penggambaran yang dibuat Suzanne Collins, terbayang kota penguasa –The Capitol , sebagai kota utopia – futuristik seperti yang kulihat dalam komik masa kecil : Flash Gordon, yang di gambar oleh Dan Barry. Aku merasa sutradara akan kesulitan menggambarkan dan mencari lokasi seperti ini. Tapi nyatanya dengan CG yang canggih, mereka bisa menampilkan sistim tele transport dan setting kota yang baik, sesuai dengan gambaran dalam buku. Bahkan ruang computer control center, tempat untuk mengawasi dan mengatur jalannya Hunger Games, bisa di buat dengan meyakinkan—lebih dari yang aku bayangkan sendiri.

Kesimpulannya :

  • Kalau hanya berdasarkan filmnya, aku tidak habis mengerti bagaimana  film ini bisa jadi box office ? Barangkali aku yang salah; sistim nilai remaja saat ini sudah amat jauh terpaut, berbedadengan sistim nilai para orang tuanya. Begitu populernya film ini di Amerika, kudengar, gara-gara film ini, banyak remaja berbondong-bondong belajar atau ikut kursus memanah– kemahiran yang dipunyai tokoh utama dalam film ini !
  • Kedua anakku, yang bukan remaja lagi, juga tidak memberi komentar terlalu bagus. Hanya Diona yang bilang film seperti ini sudah pernah dibuat oleh Jepang – Battle Royale. Ceritanya mirip, anak-anak remaja SMA diculik lalu di paksa bertarung sampai mati. Karena aku belum pernah melihat Battle Royale, tidak ada komentar untuk ini. Memang ada beberapa film yang ku tonton sejenis dengan ini , dari mulai film-filmnya Arnold Schwarzeneggar – The Running Man, sampai Stone Cold Steve Austin dalam film The Condemned.
  • Aku cuma bisa berharap, semoga ada versi R dari film ini.  Sutradara dan screenplay writer juga perlu diganti. Perlu ada perbaikan untuk dua film sequel berikutnya : Catching Fires dan Mocking Jay, kalau tidak, aku gak akan nonton !( Ku dengar Gary Ross – producernya, sedang menyiapkan sequel yang kedua : Catching Fire). Mudah-mudahan kali ini dia di jalan yang benar.
  • Dari total nilai 10, akan kuberikan angka 4 untuk film ini. Saran untuk anda : simpan saja  uang anda, lebih baik beli dan baca bukunya ! Gak percaya?

Tanya  Amrie, yang sesibuk-sibuknya main golf, pernah kulihat dia pegang buku kedua Suzanne Collins  Catching Fire dan asyik membacanya sewaktu  di lobbynya Kedaton, sambil menunggu pemain yang lain datang.

One Last Note :  Hunger Games vs Match Play

Seperti nya pertarungan Hunger Games ini kalau di Golf mirip

Match Play, satu format pertandingan golf yang paling sadis dan kejam. Tidak pandang senior, tidak pandang handicap, kalau lawan sudah keteteran, banyak bikin kesalahan, malah di hajar habis! tidak ada belas kasian. Itulah nasib sial yang menimpa ku — tahun ini aku di divisi birdie, harus MP melawan Jeff Maringka.

Hari itu aku lagi tidak fit dan banyak bikin kesalahan tidak perlu – terlalu takut pada Hole 3-Par 4, Hole 5-Par 4 dan Hole 7-par 5. Semua adalah holes laknatnya Riverside Golf Course.

Hari naas itu, barangkali aku juga terlalu banyak menyumpahi Greg Norman,  aku kalah telak 6 & 5. Kejam nian!. Awas ya Jeff, tunggu pembalasan ku !

Boediono Soerasno

Jakarta, May 6, 2012

4 thoughts on “The Hunger Games – Film Box Office?

    • Bukunya dijual. Bisa pesan via Amazon. The Hunger Games, Catching Fire dan Mocking Jay.Di Indonesia juga sudah ada yg versi Bhs. Indonesia ( Gramedia?). Membaca bukunya lebih menarik. Selamat membaca!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s