Arsitek Bisa Belajar Banyak dari Bermain Golf


Arsitek Bisa Belajar Banyak dari Bermain Golf

Aku yakin banyak arsitek yang tidak setuju dengan pendapat diatas, terutama mereka yang tidak main golf, atau yang sudah main golf tapi belum ke ‘sambet’ setan golf ..
“ Don’t roll your eyes as yet“, read on ….

Sudah lama aku sebenarnya punya pendapat seperti diatas, tapi sebelum punya dukungan data yang cukup serta ‘bantuan’, berupa pendapat yang sama dari beberapa arsitek lain, aku tidak berani menulisnya secara terbuka.
Paling banter aku hanya men‘jago’kan golf dibanding dengan olahraga lain.
Nah…., beberapa waktu yang lalu, aku membaca satu artikel di majalah Architectural Record yang kelihatannya tepat untuk menguatkan pendapatku diatas.

Golf dan arsitektur adalah dua aktivitas yang sangat berhubungan satu sama lain. Ada juga yang mengatakan Golf adalah olahraga orang tua ( ma’af ya, untuk para golfer yang masih muda …) – gak percaya ? – coba saksikan bagaimana Tom Watson, yang hampir saja memenangi British Open tahun lalu pada umur 59 tahun! ( one of the most disheartening moments in golf ), apalagi kalahnya saat ‘play off’ di hole terahir pula ! – benar enggak Amrie – AR 77) ? – salah satu arsitek yang sudah ke ‘sambet’ setan golf di usia muda.

Begitu pula arsitek, semua orang tahu, arsitek, seperti halnya konduktor orkes simponi, cenderung semakin tua semakin mantap. Mau tahu ? – I.M. Pei berusia 91 tahun ketika bangunan karyanya : Museum of Islamic Art nya, baru-baru ini resmi dibuka di Qatar.

Dalam majalah GATRA terbitan terakhir, ada artikel yang menarik tentang para arsitek yang tergolong ‘kelas bintang’ – disebut ‘starchitect’ – gabungan dari kata ‘star’ dan ‘architect’. Mereka semua sudah berumur 65 tahun keatas ! , seperti misalnya Frank Gehry, Norman Foster, Bernard Tschumi.

Sebaliknya salah satu penulis yang ku sukai tulisannya, Mark Twain, sudah kubaca buku-bukunya sejak aku masih di kelas 4 SD, yaitu “Tom Sawyer” dan “The Adventure of Huckleberry Fin”. Dua bukunya yang membuat aku terpukau, dan ber-ulang-ulang kubaca, sampai lecek halamannya. Selama itu pula aku menjadikan dia penulis favorite ku. Sayang, …. dia mengecewakan ku, ketika kutahu dia berkata tentang golf, yang berlawanan dengan keyakinan ku diatas.
Mark Twain said : “ Golf is a good walk spoiled,” ini adalah pernyataan yang ketus yang biasa dikeluarkan oleh orang yang belum pernah memegang benda artifact hasil seni yang tinggi — sebuah stik golf !
Twain seldom wrong, but this time he blew it.

Menurut ku golf, adalah satu-satunya olahraga yang dilakukan di alam terbuka diatas taman bentang alam – terjemahan bebas dari ‘landscape garden’. Lapangan golf, atau di Indonesia disebut ‘Padang Golf’ – sebenarnya aku kurang setuju dengan istilah ini, karena ‘Padang’ mengesankan ruang terbuka yang kosong, atau hanya rerumputan, seperti sebutan ‘Padang Rumput’ – sesuatu yang tidak di rancang !

Menurut Robert Campbell, FAIA, Lapangan golf merupakan hasil proses dan merupakan iterasi terakhir dari gerakan rancangan modern mengubah lapangan English Country Garden di abad 18 menjadi lapangan golf seperti yang kita lihat sekarang, yaitu artificial landscape yang telah di konfigurasi ulang sehingga menjadi lebih ‘romantic’, dengan lembah-lembah yang turun naik secara alami, kadang-kadang masih ada domba atau menjangan liar didalammya.

Semua trik-trik desain ruang luar ada disini… penciptaan ruang dengan berbagai kaidahnya.. aku teringat dosenku Pak Slamet Wirasondjaja MLA. yang mengajar mata kuliah ‘Landscape Architecture’, yang selalu menekankan pentingnya penghayatan ‘sense of space’ dan segala teori ‘ here and there’, ‘amenity space’, ‘movement and motion’ dll… sayang mata kuliah ini tidak diajarkan lagi sekarang.. padahal sangat penting untuk arsitek !

Kita bisa menyaksikan semua teori itu di aplikasikan dilapangan golf… :

The picturesque grove or single tree sited in exactly the right position to punctuate a view, the rolling contours that seem to be God’s work but are actually the product of shovels or bulldozers, the carefully managed tricks of perspective that make you think you are closer to the putting green than in fact you are, the open axial views to the far horizon (‘prospects,” in the language of landscape).

Begitu juga ‘obstacles’ — ‘jebakan-jebakan’ bermain golf merupakan sesuatu yang di rancang dengan teknik tinggi. Misalnya penempatan unsur air – sungai, danau atau kolam yang merefleksikan warna biru dilangit atau warna kecoklatan untuk pantai berpasir…

Semua di rancang seakan mengundang kita, sampai kita akhirnya sadar pukulan golf kita telah masuk dalam jebakannya dan bola golf kita hilang ditelan olehnya.

Yang kita bicarakan disini adalah lapangan golf yang bukan tipikal ada di ‘inland’ di Inggeris yang disebut ‘link courses’, yang hampir semuanya terdiri dari gundukan pasir (sand dunes) – walaupun sebenarnya dari sinilah berasalnya permainan golf. Kembali ke pendapat Mark Twain, menurutku ‘golf is not a good walk spoiled ‘, justru jalan atau jogging di dalam kota, hanya olahraga biasa, dimana si pelaku tidak ‘terlibat’ dalam alam sekelilingnya. Beda dengan golf, sipelaku berada didalam dan merasakan ruangnya, seperti halnya petani atau pemburu, mereka sangat ‘dalam’ berada di lingkungan landscape dimana dia berada.

Main golf, anda sebenarnya bermain dalam ruang, kemahiran arsitektural anda selalu di asah disini… gak percaya?, mungkin anda tidak sadar.. coba pikirkan …
Tiap kali kita akan memukul bola, kita selalu tanya caddie :”berapa jarak ?”, Anda selalu memperkirakan jarak, sudut-sudut, kemiringan (slope) dari green atau gundukan bukit, tekstur dari permukaan fairway atau green, arah dan kecepatan angin, mungkin juga arah tunduknya rumput (maksudnya kemana ujung runput menunjuk – yang mengikuti matahari). Kalau anda pemain pro, mungkin anda ingin tahu jenis rumput apa yang ditanam di green.

Anda selalu aktif ber ‘dialog’ mencoba merasakan ‘sense of landscape’ dengan semua aspeknya. Landscape di dalam golf tidak cuma ada tapi dia bermakna – Landscape isn’t just there, it matters.
(Wuih… keren juga filosofi ini ! ).

Cimenyan-20120717-01576_resize

Tidak pernah ada pukulan golf yang sama

Golf juga seperti arsitektur, tidak ada denah atau rancangan yang disiapkan sebelumnya, atau sama dengan dengan yang sudah pernah dibuat, selalu tiap rancangan merupakan sesuatu yang baru (paling tidak untuk desain yang baik). Berbeda dengan olahraga bowling atau tennis, golf dimainkan di lapangan yang berbeda dari lapangan yang satu ke lapangan yang lain, bahkan dalam lapangan yang sama pun, tiap hole berbeda dengan hole lain, beda fairwaynya, beda greennya.

Sepanjang hidup anda bermain golf, tidak akan ada pukulan golf yang sama !

Isn’t that part of what makes the architectural design too, so fascinating Bukankah hal itu juga, yang membuat kegiatan desain arsitektur menjadi sangat ‘menggairahkan’ dan menarik ?

IMG-20121127-02237_resize

Kelihatannya Mark Twain seharusnya mencoba bermain golf. Kalau dia main, mungkin dia akan menghasilkan sebuah buku yang akan menyaingi cerita karya John Updike yang sangat baik, berjudul “Farrell’s Caddie”, yang mengisahkan tentang seorang caddie yang bijak yang membantu seorang golfer dari Amerika, bermain pertama kali di lapangan golf di Scotlandia.

Suatu hubungan yang indah antara golfer dan caddienya, percampuran antara encouregement, challenge and collaboration.

Aku bukan ahli landsdape, tapi apa yang ku alami, sewaktu bermain golf memang terjadi interaksi antara aku dengan lanscape disekelilingku, kadang-kadang secara sadar atau tidak, interaksi yang terus menerus ini sepanjang permainan golf, bisa mengasah kemampuan desain arsitektur kita.

‘A tall order’ untuk semua arsitek pemain golf, baik buat pemula maupun penggila.

Jakarta, 5 Februari 2010

BS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s