Earth Day at Mt. Bromo


Thursday, 22 April 2010. Early dawn, Venue : Mount Bromo – (2400 m Above Sea Level), Grey Tee, No Cart available, only hardtops. No Golf equipment, only photographic gears.

Gelapnya pagi, tebalnya kabut dan dinginnya udara tidak menyurutkan niat para peserta fotografi trip yang tergabung dalam Tim Arhie_Motre, untuk mendaki puncak gunung Bromo.

P
erjalanan ini sebenarnya tidak sengaja diawali dengan gagasan untuk belajar memotret yang benar dan kebetulan salah satu alumni Ars ’65 – Goenadi Haryanto adalah pakar dalam bidang ini, bersedia untuk meluangkan waktunya yang super sibuk untuk membimbing kami — para ‘beginners’ untuk memberi pelajaran dan langsung praktek lapangan dengan mencari obyek untuk di foto ke gunung Bromo.

Nama grup ini juga digagas Goenadi ketika tiba di puncak – View Point Bromo, setelah melihat ..lho koq banyak juga ya Arsitek yang ikut, ditambah dengan beberapa sahabat dekat yang juga hobby motret — ada yang pemula seperti aku, dan adanya juga yang ‘maniak berat’ seperti Julius Keke ( ARS ’72 ), Khairul Mahadi, Anton Himawan.

Nama grup ini Archi_Motre ( Para Arsitek Motret) – supaya keren…. di bikin namanya sedikit bergaya Perancis !.Terdiri dari 12 Orang dan tak kurang 8 diantaranya adalah alumni Arsitektur ITB.

The mountain starts showing its cleavages

Perjalanan dari Jakarta ke desa Ngadisari — dikaki gunung Bromo, melalui Surabaya dengan pesawat dilakukan Rabu pagi, 21 April — tak perlu di ceritakan karena perjalanan biasa dan tak ada yang menarik. Hanya ketika tiba di Surabaya, kami dijemput bp. Budi Darmawan, teman baiknya Goenadi Haryanto , yang ternyata juga expert fotografi, dengan gelarnya yang juga berderet didepan namanya. Beliau ikut dengan rombongan kami dan aku beserta Hendro Martono -ARS ’65 ikut mobilnya menuju Bromo.

Sangat kebetulan selama perjalanan yang kurang lebih 3 jam dari Surabaya ke Bromo, kami bisa ngobrol dengan enak ! Kenapa ? Ternyata pak Budi Darmawan ini, kupanggil saya pa BeDe, penggemar Rally dan hobby berat mobil, tapi mobil tua dan mobil antik. Sedangkan Hendro Martono adalah ‘off-roader’ — yang pernah mendampingi ku sebagai navigator ketika kami ikut Darma Putra Rally dari Medan finish di Jakarta. Jadi…. nyambunglah obrolan selain fotografi dengan topik mobil dan rally .. What a coincidence !

Rombongan kedua – 9 orang belum muncul … sampai 20 menit kemudian mereka tiba dan ketika kami tanya mengapa terlambat ? Jawabnya :” Kami semua sudah ‘ereksi’, tidak tahan lagi … langsung minta sopir berhenti… untuk motret !”.

Tapi begitu jalan menanjak mendekati Ngadisari dengan 2 buah mobil , pemandangan mulai berbeda dan ketika aku dengan 3 penumpang tiba di depan hotel LAVA VIEW, kami langsung berhamburan keluar, karena di tepi jalan didepan hotel, kami bisa melihat hamparan kawah yang amat luas — teramat luas warnanya abu-abu dengan bebrapa gunung kecil namanya gunung Batok, dan kawah yang berasap putih, sementara di latar belakang terlihat gunung Semeru menjulang dengan megahnya !…

Rombongan kedua – 9 orang belum muncul … sampai 20 menit kemudian mereka tiba dan ketika kami tanya mengapa terlambat ? Jawabnya :” Kami semua sudah ‘ereksi’, tidak tahan lagi … langsung minta sopir berhenti… untuk motret !”.

Sama halnya dengan kami yang sudah duluan , mereka semua berloncatan memasang tripod mereka , mencari tempat yang strategis , memotret apa yang terlihat kearah ‘caldera’ — kawah raksasa ini.

Adventure sebenarnya baru mulai besoknya — Kamis subuh jam 04.00 pagi, kami sudah harus siap berangkat ke View Point (Pananjakan) — puncak tertinggi untuk menunggu matahari terbit. Ini yang kuceritakan didepan, udara dinginnya bukan main, untung sebelum berangkat sudah diberi tahu semua perlengkapan yang harus dibawa. Pakaian dalam – long john, jaket tebal dengan penutup telinga, sarung tangan dan flashlight, karena semua gelap gulita…..! dan tentu saja semua dengan photo- gear nya masing-masing.

Perjalanan dilakukan dengan 3 Jeep Toyota hardtop, masing2 disisi 4 orang, mulai mendaki sangat terjal dan berkelok-kelok dengan tajam — pantes !… kalau tidak 4 wheel drive , kelihatannya akan sulit bisa sampai diatas. Anehnya … disini ternyata sudah jadi standard, mobil yang dipakai Toyota Hardtop kuperhatikan banyak sekali jenis ini di sekitar Bromo.

Perjalanan 25 menit ke puncak, dan jeep terpaksa berhenti di satu titik , lalu kami harus jalan kaki menanjak sepanjang 300 meter — Uch ! berat juga jalan kaki ini, karena udara (O2) sangat tipis di ketinggian ini, sehingga bernafas terasa sulit. Untunglah aku sudah sering jalan golf, sehingga bisa tiba diatas dengan selamat.
Aku heran juga …. Ketika kami sampai diatas, ternyata sudah banyak ‘orang-orang gila lain’ termasuk beberapa ‘Bule’ yang mau naik sampai kepuncak hanya untuk melihat matahari terbit. Beberapa ‘spot’ yang baik sudah ditempati orang lain untuk memotret.

Bromo Sunrise-02_resize
The Sun start rising from the left …..

Jam baru menunjukkan jam 04.15 pagi, katanya kalau sedang ‘peak season’, yang naik kesini bisa mencapai 200 ratusan jeep hardtop, dan banyak harus berhenti sebelum dipuncak, karena tempat tidak muat, lalu harus jalan kaki dengan jarak yang lebih jauh lagi! Satu kegilaan lagi dari hobby fotografi.

Kalau di golf, peralatan kita di bawa caddie, tapi disini semua harus diangkat sendiri. Mereka yang hobby berat terlihat dari banyaknya peralatan foto yang dibawa, paling sedikit 3 macam camera, tripod, dengan berbagai lensanya…. ! aku sih termasuk pemula .. hanya bawa satu tas kecil, tapi tetap itu alat yang paling susah yaitu tripod ‘kudu’ dibawa. Ini ternyata rule no. 1 untuk pemotret ! Don’t leave home without it !

Bromo cloud-1
Blue Planet… called Earth !.

Ketika matahari mulai terbit, hampir semua berkata :” Oh my God !. oh my Lord. What a beautiful scenery !”. Matahari mulai muncul kemerahan dan lembah-lembah serta cerukan gunung mulai terlihat dengan jelas, memberikan efek bayangan dan kontras yang sangat di nanti oleh para fotographer…

Karena fotografi intinya adalah ‘exposure’ terhadap cahaya — harus ada cahaya…. ! Wah ! keren juga konsepnya, padahal aku hanya baca-baca saja di buku forografi, dan sekarang baru mau dipraktekan semua teori tadi.
Selama ini aku binggung dengan istilah-istilah “Aperture, Focal length, Shutter Speed, ISO ‘ dan lain lainya… belum lagi angka-angkanya dan satuannya yang aneh-aneh — f/5.6, speed 1/250 detik, 24 – 200 mm, dan hubungannya satu sama lain.

Tapi…. setelah dijalani dan langsung praktek… menjadi lebih mudah. Justru yang paling sulit bagaimana mata kita sendiri untuk menilai dan memilih apa yang bagus untuk di ‘shoot’ .

EARTH DAY ….

Tak disengaja hari ini bertepatan dengan Hari Bumi 2010 – Earth Day 2010 . Melihat semua keindahan alam ini. memang kita jadi berpikir … bagaimana melestarikan semua ini — how to conserve all of this natural and beauty of the blue planet called Earth .

foggy village road_resize

Hazy Village at Tengger

Uphill battle_resize

Lonely Street

Kulihat disini ada hal yang perlu ditiru tempat-tempat lain. Yaitu adat orang Tengger yang amat kuat, bahkan Pemda sendiri tidak bisa menembus adat tadi, yaitu orang luar Tengger tidak bisa berusaha dan berinvestasi di kawasan Tenggar dalam ini, sehingga tidak terlihat banyak hotel atau fasilitas lain yang merusak seperti halnya di Pangandaran, Pelabuhan Ratu dll. yang terlihat kumuh dan kotor.

Hari ketiga, kami sekarang turun kebawah, yang juga dimulai jam 05.00 pagi menuju caldera — kawah raksasa yang maha luas. Tak terbayangkan bagaimana terbentuknya kawah yang amat luas dengan lautan pasir dan sedikit rerumputan seperti di padang ‘Savanah’.
Ketika kami sampai di savanah, berbeda dengan kemaren, tempat ini sunyi, sepii, tak ada orang lain, hanya kami 12 orang — karena memang spot ini tidak banyak diketahui orang lain, hanya pemandu kami pak Bede yang tahu. Untuk maksud fotogafi, dia pun sudah menyewa dua ekor kuda dan penunggangnya untuk dijadikan obyek bergerak….

Hardtops ( Toyotas) at the Caldera - Mt.Bromo

Hardtops (Toyotas) at the Caldera – Mt.Bromo

Discussion on horse back_resize

Morning discussion – Two horsemen from Tengget

Aku membayangkan pasti ada letusan raksasa, yang membentuk kawah sebesar ini dan kemudian dari dalam kawah bermunculan gunung-gunung kecil, seperti gunung Batok, dan kawah Bromo yang selalu berasap…..

Ini terjadi sejak waktu virtual tercipta, sesuai teori ‘the big bang’, ketika terjadi ‘lubang hitam’ dan nebula mengeras dan terus berkembang dan merentang sesuai kurun waktu … entah kapan akan berhenti — aku tak tahu. Aku hanya bersyukur bisa menikmati dan mengabadikan hasil akhir proses ini dalam foto-foto yang kuambil tanpa batas karena teknologi digital yang canggih, hanya memakai media SD card sebesar 2 cm persegi saja.

Walaupun tanpa perjanjian, aku kira semua peserta atau siapa saja yang melihat keindahan ini, akan mempunyai asa yang sama, semua ini membawa pesan untuk merenungkan arti pentingnya bagi kondisi lingkungan saat ini. Pemanasan global, kerusakan hutan, perubahan iklim dan alih fungsi lahan akan membuat bencana semakin dekat dengan manusia.

Tengger village from the top of the Caldera

Happy Earth Day !, Thanks to God Allmighty, who gives us this beautiful planet we live on…. Let’s conserve it !!

*****

Ngadisari, Mt. Bromo, 22 April 2010

Boediono Soerasno AR-65

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s