Drive By Wire


Friday, January 29, 2010

Dear Friends and Fellow motorist – yang sering berkendaraan mobil,

Aku percaya ‘Murphy’s Law’ yang mengatakan:

If everything that can go wrong, it will go wrong’…. sooner or later ! and usually it will happen at the worst possible time !”

320-res

Hal seperti itu, sudah beberapa kali ku alami, dan salah satunya yang akan ku ceritakan dibawah ini — cerita kejadian Kamis malam, menjelang pagi hari Jumat diakhir bulan Oktober tahun yang lalu, ketika aku meluncur pulang dengan mobilku dari Bandung menuju Jakarta

Percaya pada hukum diatas, sebagus apapun, atau sekuat apapun mobil anda, pasti akan terjadi ‘breakdown’dijalan, dan saking seringnya aku melakukan perjalanan dengan mobil, aku sudah mengadakan persiapan, dari pada tidak ada persiapan sama sekali.
Kuceritakan kembali kejadian ini, karena aku yakin banyak dari anda yang juga sering melakukan perjalanan dengan mobil, walaupun waktunya tidak ‘diluar jam normal’ seperti yang selalu aku lakukan.

The greatest luxury in life is time.. savour every seconds of its !

Seperti biasanya tiap Kamis malam, setelah selesai mengajar dan urusan kantor, serta pertemuan dengan beberapa teman-teman ex SMAN1 , aku bersiap untuk pulang, kembali ke Jakarta. Aku rencana berangkat jam 01.00 dari jalan Sumur Bandung, dan ku lakukan rutinitas yang biasa ku lakukan sebelum berangkat :

Mesin mobil kupanaskan, semua indikator menunjukkan normal, periksa semua lampu menyala dengan baik, termasuk lampu rem dan lampu hazard. Bahan bakar di tangki separuh lebih sedikit, kupikir cukup sampai Jakarta ( ternyata ini keputusan yang kurang bijak –seperti terbukti nanti)
Dan tentu hal-hal kecil lain seperti:

  1. HP, batterynya penuh atau kalau tak penuh, siap dengan battery cadangan, lebih baik lagi, aku selalu bawa charger HP untuk bisa charging dari mobil. Dalam keadaan darurat kita perlu banyak menelpon – sangat menyebalkan disaat diperlukan dan kritis, HP kita menunjukkan ‘Low Battery’.
  2. Siapkan uang kecil, dan pas untuk setiap toll yang akan dilalui dan letakkan di tempat yang mudah dijangkau– jadi tak perlu lagi mengeluarkan dompet lalu hitung uang yang pas untuk bayar toll – ini sangat mengganggu kalau kita tidak siap, kadang-kadang aku suka kesal dengan mobil didepanku yang ‘terlalu lama’ mencari uang untuk bayar toll, sehingga mobil dibelakangnya harus menunggu. (kuperhatikan kebiasaan seperti ini – menyiapkan terlebih dulu uang pas untuk membayar toll, sangat jarang dilakukan orang.)
  3. Barang-barang yang dibawa, buku, tas pakaian, laptop dll., diatur letaknya, supaya sedikit mungkin bergerak, maklum kecepatanku ‘agak’ tinggi, sehingga barang-barang akan bergeser kekiri-kanan, bisa juga terlempar kedepan, atau menimbulkan bunyi-bunyian yang akan mengganggu konsentrasiku waktu mengemudi dengan kecepatan tinggi.
  4. Kalau perlu minum diperjalanan, bawa botol Aqua kecil atau Pocari, sekali lagi, letakkan di tempat yang terjangkau dari posisi kita mengemudi, sehingga kita tak perlu berhenti untuk mengambilnya.

Aku start jam 01.15 dan langsung menuju Jakarta melalu jalan raya Puncak (bukan Toll Cipularang). Memang begitu kebiasaan ku, karena sewaktu berangkat dari Jakarta ke Bandung aku sudah melalui Toll Cipularang, dan menurut pengamatanku, kalau masuk Jakarta melalui jalan Tol, semua kendaraan akan masuk ke satu pintu, sehingga akan terjadi kepadatan mendekati Jakarta. Makin dekat akan semakin penuh dengan bis dan truk yang bersamaan antre masuk Jakarta. You have to queue like hell !…. sesuatu yang biasanya dihindari oleh motorist sejati.

To cut story short, kota-kota Cianjur, Cipanas, Puncak, semua kulalui dengan aman. Setiap minggu, kulalui rute ini, sehingga aku sudah hafal benar setiap tikungan dan jalan lurus yang ada – ‘I know the roads like the back of my hand ‘ , juga kecepatan berapa kulalui setiap titik dan pada gigi berapa yang paling efesien untuk untuk mengambil sebuah tikungan, aku juga hafal dimana titik pengereman yang terbaik untuk mendapatkan exit kecepatan maksimum keluar dari tikungan .Aku bisa memilih ‘Fast In-Slow Out’ atau ‘ Slow In-Fast Out’, ini salah satu teknik balap Friends!, untuk dijalan aspal (tarmac), dan tentunya hanya bisa dipraktekkan kalau jalanan dalam keadaan sepii !. Nah…sekarang bisa di mengerti kan, mengapa aku start selalu diatas jam 01.00 pagi dari Bandung dan sekalu kupilih jalur Puncak….( karena melalui toll Cipularang, tidak ada tikungan untuk ber ’praktek’ – as simple as that !)

The road to happiness has many curves ….

Mobilku si Kuning seperti biasa – selalu ‘menuruti apa yang ku mau’, dia sebenarnya ‘Wolf in a sheep’s skin’, from the outside, just like ordinary standard car, but inside …. with 6 cylinders under the hood and 210 horsepower at your disposal, you can take some truly exhilarating drive — everytime !. Tapi malam ini, …..that’s not to be the case !.. kelihatanya, aku mengalami pengalaman yang agak berbeda …..
Aku sangat menikmati perjalanan yang memacu adrenalin ini, apalagi kalau semua dalam kondisi yang prima, baik mesin, suspensi, sistim rem, maupun ‘handling’ nya.

Sampai menjelang pertigaan Gadok, ketika aku harus menyusul sebuah truk, tiba-tiba…. ketika truk baru tersusul separuh, …. aku rasakan pedal gas, ketika di injak… tidak ada reaksi, injakanku terasa kosong dan ringan, tidak ada suara apapun!, padahal mobil masih pada gigi 3. Ketika kucoba teknik ‘double-clutch’, biasanya mobil ku pasti ‘meloncat’ walau posisi gigi 3 sekalipun. Dari ruang mesin juga tidak ada raungan suara mesin dengan bunyinya yang khas yang biasa kudengar … sunyi, bahkan terasa mobil melambat, walaupun truk sudah berhasil kuliwati.

Dengan cepat ku analisa kondisi jalan, sambil mencari tempat berhenti yang paling aman (usahakan dibagian jalan yang lurus). Jalan agak menurun, jadi kumasukan gigi netral dan mobil meluncur dengan tenaga sisa, masuk kejalan penghubung dari Gadok ke pintu Toll Ciawi. Setelah melewati pertigaan Gadok – Ciawi, dengan lampu lalulintas dimana ada Pos/kantor polisi disebelah kiri, dan kebetulan lampu lalulintas menyala hijau mobil masih bisa meluncur dengan kecepatan sisa, tapi Gerbang Toll Ciawi masih kira-kira 2-3 km, tak mungkin rasanya bisa sampai kesana tanpa tenaga ( karena gas mobil tidak berfungsi ! – perkiraan ku pasti ada yang putus, kalau tidak kabel gas, mungkin pegas di pedal gas !).

Akhirnya aku putuskan untuk berhenti, walaupun jalan sebenarnya sempit, dengan lampu utama ‘xenon’ ku, aku bisa melihat kira-kira 150 meter didepan terlihat jalan bercabang dua , dan kelihatan makin menyempit. Itu bukan lokasi yang baik, pikirku…, hentikan sekarang saja.. lalu kusengaja dua roda kiri mobilku sudah menjejak rumput. Sudah kuperhitungkan agar aku masih bisa bekerja di samping kanan mobil dengan ruang yang lebih banyak. karena ini jalan sudah termasuk semi-toll, mobil-mobil yang melintas kecepatannya tinggi.

Jam menunjukkan jam 02.30 pagi. Aku nyalakan lampu ‘hazard’ (ini pemakaian lampu hazard yg betul ! – kebanyakan pengemudi di Indonesia salah kaprah – menyalakan lampu hazard kalau ada kabut, ketika hujan deras, atau masuk terowongan dll, — menurut internasional traffic code, lampu hazard digunakan kalau mobil kita dalam keadaan stationary – atau berhenti !)
Pasang segitiga pengaman, pada jarak yang cukup, minimum 30 meter dibelakang mobil kita.Segera ku amati kondisi medan sekeliling, kondisi jalan gelap betul, kuperhatikan ditengah daerah yang tidak berpenghuni – paling sedikit ada daerah rumput 100 meteran baru terlihat ada pagar, tapi tidak ada lampu –lampu perumahan — sepii!.

Kubuka GPS ku, kucatat kordinat posisiku : S 06 – 39.150 dan E 106 – 51.272, El. 61 m, siapa tahu aku perlu memberi tahukan posisiku. (….. Dalam hatiku.. mana ada mobil derek atau patroli Jasa Marga yang bawa/pakai GPS)

Setengah jam ku cari tahu apa sebabnya pedal gas tak berfungsi. Pedal gas memang sudah ‘terkulai’ dan aku harus membuka dek penutup dibawah steering wheel untuk melihat dimana putusnya, ternyata sulit sekali membuka dek ini, juga posisi mobil dijalan yg sempit menyulitkan untuk aku bisa bekerja, karena aku harus membuka pintu kanan lebar-lebar dan aku ‘nelongsor’, setengah badan dan kaki diluar mobil dan kepala masuk di bawah steering wheel untuk memeriksa – sementara mobil-mobil sangat dekat lewat disebelahku dengan kecepatan yang tinggi – Hiih…ngeri juga membayangkan kalau ada mobil yang pengemudinya ngantuk, dan terlambat melihat mobilku yang berhenti ditepi jalan.

Kuputuskan untuk tidak mengambil resiko ini, yaitu kaki ku tergilas mobil yang liwat, sehingga aku pusatkan perhatian sekarang pada perbaikan didalam ruang mesin – sementara jam sudah menunjukkan jam 03.00 lebih.
Kubuka kap mesin, mesin masih hidup, dan kabel gas di mesin kalau di tarik/tekan secara manual masih bisa berfungsi. Kabel gas diurut sampai masuk ke ruang kabin, tapi aku tidak bisa membuka/mencabut kabel ini, karena ruang disekitar mur sedemikian sempit, kunci pas atau kunci sock tidak bisa dipakai/diputar. (Hal ini mengajari aku lagi untuk menambah koleksi tool lain dalam toolboxku , yang bisa dipakai untuk kondisi ini).

Dalam keadaan seperti ini, ada juga pilihan yang harus diambil. Supaya mobil kita terlihat…, lampu kecil dan hazard harus dinyalakan dan ini memerlukan tenaga listrik dari mesin, kalau mesin tetap dihidupkan terus menerus, ini akan menghabiskan bahan bakar, padahal di tangki ku tinggal ¼ — ini kesalahan lagi, seharusnya sebelum start dari Bandung, tangki ku isi penuh, agar dalam kondisi darurat ini, kita tidak perlu kuatir kehabisan bahan bakar.
Sebaliknya aku juga pernah mengalami, sewaktu bekerja dalam gelap, aku selalu menggunakan lampu kerja yang cukup terang (lampu sorot halogen) yang mengambil tenaga dari cigarettes lighter dimobil. Waktu itu, mesin mobil justru ku matikan untuk menghemat bahan bakar. Ternyata setelah selesai, mobil tidak bisa di ‘start’ karena battery habis dipakai oleh lampu kerja halogen !

Aku masih berusaha untuk mencabut kabel gas, dari ruang mesin untuk tahu dimana putusnya…. 30 menit telah berlalu lagi tanpa hasil. Akhirnya kuputuskan menilpon Jasa Marga . Di phonebook ku hanya ada satu nomor Toll Cipularang : 022 202 1666. Ternyata nomor ini sudah berganti dengan 021 8088 0123 , yang ternyata Jasa Marga Traffic Information Center . Bagus pikirku.., aku minta diberikan nomor Toll Ciawi , karena ini yang terdekat , dan minta dikirim mobil derek untuk menarik ke gerbang toll Ciawi, yang lokasinya lebih terang dan ada daerah yg luas untuk bekerja dengan baik) .
Tapi diluar dugaanku, mereka tidak siap, masih akan cari dulu mobil derek terdekat …. dan janji akan menghubungi lagi . Ironis memang, padahal Gerbang Toll Ciawi hanya 3,16 km lagi dari posisi mobilku berhenti – kuukur tepat dari GPS ku !).

Sepuluh menit kemudian, ada yang menilpon balik, ketika kutanya dari mana? Apakah dari Jasa Marga?, mereka tidak mau menjawab dengan jelas, hanya menjawab mobil derek dari Taman Mini – Aku berpikir, jangan-jangan ini mobil derek liar yang sudah sering kudengar cerita ‘horor’ nya — memaksa menarik mobil dengan imbalan ongkos yang selangit. Tapi … tunggu dulu… dari mana dia tahu nomor HP ku?, pasti ini info dari Jasa Marga traffic center tadi, yang memang kuberikan nomor HP ku untuk dia bisa menghubungi aku lagi. Ku putuskan untuk memancing lebih jauh dengan menjelaskan posisi, lalu menanyakan berapa biayanya.

Sewaktu dia tahu aku hanya perlu di derek sampai gerbang Toll Ciawi, kentara sekali dari nada suaranya dia tidak berminat, berkali-kali dia menyarankan untuk ditarik sampai Jakarta saja, karena pada jam begini, tidak ada lagi mobil derek yang beroperasi, sambil menakut-nakuti!
Tawarannya ku tolak, karena biayanya pasti mahal, walaupun dia belum sempat menyebutkan angkanya, lagi pula, aku hanya perlu ditarik ke Gerbang Toll terdekat — aku bermaksud memperbaiki sendiri.

Setelah kupikir lagi… sudah pasti dia enggan membantu, karena kalau dia dari derek non-Jasa Marga, dia akan rugi besar, berangkat dari dari Taman Mini ke Gadok, yang jaraknya ku taksir 50 km, lalu hanya men derek 3 km. Sebaliknya aku juga tidak mengerti, mengapa Jasa Marga tidak siap dengan mobil dereknya sendiri, padahal Toll Jagorawi merupakan Toll terbesar dan Gerbang Toll Ciawi cukup banyak fasilitasnya, mereka malah men ‘sub’ kan ke mobil derek diluar Jasa Marga! – (mudah-mudah an perkiraan ku salah dan Jasa Marga tidak seburuk ini layanannya)

Pagi makin mendekat, tapi langit masih gelap…. Sudah jam 03.40, ketika itu aku sedikit ‘menyerah’ dan dengan berat hati, ku tilpon ‘BMW 24 hour Service Center’. Tilpon langsung diangkat . “Wah… hebat juga !” kupikir, sepagi ini ada yang jaga….. Setelah basa-basi jelaskan jenis dan tahun mobil, posisi serta kerusakan, dia berjanji akan kirim mekanik terdekat ! Sambil menunggu mobil derek dan mekanik dari BMW, aku masih mencoba menarik kabel dari ruang mesin, karena dari ruang pedal kaki, aku tidak bisa menemukan ujungnya.

Tilpon dari BMW tidak kunjung datang, ketika kutilpon balik, mereka menjawab belum menemukan mekanik yang bisa diminta kerja – lantas apa gunanya 24 hour Service ?? , mungkin hanya call center saja ! Tapi …. dalam hatiku sebenarnya aku agak senang juga, karena di kepalaku, aku sudah mulai mendapat jalan untuk keluar dari kesulitan ini……

Akhirnya kuputuskan “ I must do something !”. Semangat “Never Cracked Under Pressure” (Yang kupelajari dan selalu dilatih sewaktu mengikuti pendidikan Mahawarman Yon-I, ITB), menyebabkan aku berpikir keras untuk segera keluar dari tempat ini, paling tidak ketempat yang lebih aman untuk memperbaiki kerusakan. …..

Sebenarnya aku teringat pengalamanku, mengikuti salah satu Asean Rally, yang start dari Pataya,Thailand dekat Bangkok dan finish di Singapura. Sewaktu kami memasuki Malaysia, mobilku mengalami kerusakan yang sama di tengah kebun karet dipinggiran kota Johor, solusinya kabel gas di ganti dengan kawat dan ditarik dengan tangan dari dalam mobil ! Luar biasa !! Hanya saja .. waktu itu kondisi sedang dalam kompetisi dan darurat. Ditambah lagi, ternyata tidak gampang mengemudi dengan satu tangan kiri sambil memainkan gigi persneling, dan tangan kanan menarik kabel untuk mengatur kecepatan. Tapi kenapa tidak di coba sekarang ? Ini sebuah keputusan penting, karena dari pada menunggu di tempat yang sunyi ini sampai pagi, belum lagi, kalau ada orang-orang yang bermaksud jahat, lebih baik ‘bergerak’ atau kalau bisa selalu dalam keadaan bergerak – “You don’t want to be a sitting duck !”. ( salah satu ‘survival-must-do list’ kalau ingin survive).

Steel Wire — forgot where I bought it ! – a ‘must-have’ in your toolbox.Tentu saja sebelum mengambil keputusan ini, beberapa hal teknis harus diperhitungkan, misalnya kalau kabel gas diputus, dimana diputusnya, apakah kita punya kabel lain atau kawat yang cukup panjang, yang bisa dipakai atau untuk menyambungnya sampai ke kabin pengemudi? Dimana mau cari kawat atau tali yang kuat di tengah hutan begini?
Beruntung ketika kuperiksa Toolbox ku, aku membawa satu gulung kawat baja, walaupun diameter kecil, tapi ternyata kuatnya luar biasa.

Aku juga harus memperhitungkan, waktu sudah menjelang pagi, aku harus bisa menyelesaikan dengan cepat sebelum jam 05.00 pagi, kalau tidak maka lalu lintas di Toll dari Bogor menuju Jakarta menjadi terlalu ramai. Mengemudikan mobil di jalan toll yang cukup ramai dengan mobil-mobil yang berkecepatannya tinggi, dengan cara gas yang ditarik dengan tangan, kelihatannya “ It is not a bright good idea”.

Akhirnya kuputuskan untuk memotong kabel gas ini di ujung tepat sebelum masuk ke kabin pengemudi, untuk mendapatkan panjang yg maksimal. Ternyata masih ada masalah lain yang menghadang — Kabel gas ini terbuat dari baja yang amat kuat, aku harus mengerahkan tenaga yg besar dan menggunakan Tang Pemotong (lagi-lagi aku ternyata membawa Plier Cutter di toolbox)
Setelah terpotong, dengan teknik menyambung khusus, kabel gas tadi ku hubungkan dengan kawat baja yang sudah ku ukur panjangnya sampai dekat kemudi sehingga aku bisa menariknya dengan tangan, tanpa tanganku harus ku julurkan keluar jendela mobil.

Sudah tentu, “kabel gas darurat yang ganjil” harus ditest dulu… . Ketika kutarik, gas bisa berfungsi, walaupun harus dengan sedikit tenaga, tapi ini dalam keadaan berhenti … kalau mobil jalan, barangkali ceritanya lain lagi… Test yang terbaik adalah menjalankan mobil sampai ke Gerbang Toll Ciawi yang jaraknya cuma 3 km.

Hati-hati, mobil kujalankan dengan teknik-aneh ini. Mula-mula terasa agak janggal, setelah sekian puluh tahun tidak pernah mencoba lagi mengemudi dengan gas ditangan, perlu kordinasi yang baik antara tangan kiri dan kanan, juga kaki kiri untuk pedal kopling dan kaki kanan hanya untuk rem (pedal gas sudah tak berfungsi).
Mobil berjalan pelan dan berhasil sampai ke Gerbang Toll Ciawi dengan aman. Kuperlukan berhenti dulu sebelum masuk Gerbang Toll, karena – jari-jari tangan ku terasa sakit, menarik kabel kawat yang kecil, aku harus merapikan dulu kabel gas ini, apalagi kuperhitungkan sekarang akan masuk toll Jagorawi dan jarak kerumah masih 60 – 70 km.

‘T-bone’ — Ujung kawat harus dirapikan lagi dan di ‘design’ ulang bentuknya supaya nyaman ditangan. Kubuat yang sederhana saja, dengan mengambil salah satu driver (obeng) , ikatkan kawat ini ditengah dengan beberapa lilitan sehingga membentuk “T”, lalu bebat simpul ini dengan kain lap sehingga agak tebal. Naah.. jadilah alat penarik gas darurat yang bentuknya ajaib tapi tidak sakit ditangan.

The strange-looking gadget for accelerator

Waktu itu jam sudah menunjukkan jam 04.10,ketika ku selesai dengan persiapan “Gas Tangan” yang ganjil ini.
Sebelum kumulai perjalanan yang ‘mendebarkan’ ini, ku tilpon balik Jasa Marga dan BMW center (yang sampai detik itu tidak juga ada yg datang..), memberitahukan bahwa aku sudah bisa mengatasi masalah sendiri dan terima kasih atas “bantuan nya” – Aku berpikir positif saja, barangkali , memang jam perjalananku yang tidak normal !
Tak lupa kutilpon orang dirumah supaya tidak kuatir menunggu.., dengan memilih timing yg tepat tentunya….(ketika aku yakin pada jam itu, istriku sudah bangun…)

Perjalanan dari Gerbang Toll Ciawi, ternyata diluar dugaanku, berjalan lancar, bahkan masih bisa ‘ngebut’, mencapai gigi 4, hanya .. sekali-sekali terjadi ‘scary moments’ ketika mobil didepan ku tiba-tiba mengurangi kecepatan dengan drastis, ketika gas-tangan kulepas (tangan kanan mengendurkan kabel gas) — ternyata kecepatan mobilku tidak berkurang !…… dan tentu saja sedikit panik…., tapi dapat kuatasi dengan segera injak pedal rem…. dan reflek, tentu saja kaki kiri injak kopling -langsung masukkan gigi netral atau yg lebih rendah, kalau tidak, mesin akan ‘stalled’ dan bisa ditabrak oleh mobil dibelakangku. Hal ini bisa terjadi karena kabel gas bukan lagi satu kabel yang utuh tapi ada sambungan, sehingga ketika dikendurkan, ada ‘lag time’ diteruskan ke mesin, dan mobil tidak langsung berkurang kecepatannya.

Sewaktu mengambil kartu toll dan membayar toll, karena semua uang pas sudah aku siapkan sebelumnya, maka prosesnya lancar dan mudah. Hanya saja … ketika kulirik mukanya penjaga tol, dia kelihatan terpana…, dahinya berkerut, matanya seakan penuh tanya … melihat ada kabel menjulur dari tanganku menuju kap mesin… !

Tak kupedulikan keheranannya… langsung kutarik gas dengan tangan kananku, bak mengendali kuda saja….

Naah … itulah teman, sebuah pengalaman yang unik dan mendebarkan, mengemudikan mobil dengan gas-tangan – barangkali ini yang disebut ‘Drive-By-Wire’ ( literalry!) -– benar-benar mengemudikan dengan kawat, dalam arti yang sebenarnya !

Alhamdulilah, jam 04.35 aku tiba dirumah dengan selamat dan bersyukur kepadaNya, semuanya berkat pertolonganNya, dapat kuselesaikan sendiri dengan aman, serta tidak ada hambatan lainnya .
Aku putuskan untuk membereskan mobil besok pagi saja dan langsung tidur, karena setelah kuhitung, sejak Kamis jam 03.30, aku belum tidur selama 25,5 jam!!

Itulah sedikit pengalaman kejadian ‘breakdown’ dijalan, yang bisa dijadikan masukan, terutama untuk mereka ‘Fellow Motorist’ yang sering berpergian dengan mobil.
Semua hal yang kulakukan sebagai persiapan bisa ditiru, …. kecuali .. bagian yang ‘mengemudikan mobil dengan kabel gas tangan’, sebaiknya jangan dilakukan, kalau tidak sangat, sangat terpaksa !!

Kalau anda sering menonton tayangan di TV untuk adegan stunts, atau acara-acara yang berbahaya, kiranya peringatan yang biasa di pasang dibagian akhir seperti ini :

The above stunts and scenes were performed by trained-professionals, — Don’t try it at home.. without the supervision from the professionals !

cocok untuk aku sampaikan — he he he…)

Tapi,…. ternyata yang terpenting, persiapan yang cukup dan membuat keputusan yang cepat sangat membantu kita dalam kondisi darurat.

Well… Friends, for your next motoring trip…. Safe drively !, oops !… I mean ‘Drive safely’ !!

Semoga bermanfaat untuk para ‘die-hard road wariors’ dan ‘driving enthusiasts’.

BS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s